Mengapa Aku Tak Akan Pernah Mau Hanya “Sekedar Berteman” Denganmu

7 min read

Hai,

Entah ini sudah hari keberapa kita berdua menjalani semua bersama-sama. Rasanya aneh ketika kita berdua begitu nyaman bersama-sama sementara mereka belum tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara kita berdua.

Pun aku juga tak tahu kita berdua ini sedang apa dan menuju kemana.

Teman? Memang benar kita berdua berteman. Namun rasanya teman pun tak seperti ini adanya.

Tak ada teman yang rela datang mengajakmu pergi ke pantai jam 4 pagi hanya untuk menikmati indahnya matahari terbit. Tak ada teman yang rela menghabiskan malamnya denganmu menikmati indahnya bintang di atas sana. Dan tak ada teman yang menatapmu dengan mata penuh sayang dan dengan elusan lembut di atas kepala sembari berkata, “Selamat malam, mimpi indah ya.” di akhir hari kita bertemu.

Lantas, kita ini apa?

Banyak teman yang bilang bahwa “Sudah kalian pacaran saja.”

Jauh di lubuk hati aku juga ingin demikian, hubungan kita memiliki kejelasan. Namun entah mengapa selalu ada saja tak bisa.

Kamu tetap menginginkan kita berdua seperti ini saja, berteman untuk jangka waktu yang entah sampai kapan. Untuk alasan apapun, kini aku tahu bahwa tetap menjadi teman bukanlah hal yang mungkin untuk kita lakukan.

 

Karena aku masih ingin kamu menjadi orang pertama di setiap pagiku.

sunset yang bagus
image: tumblr.com

Aku suka melihat namamu muncul di layar handphoneku, entah itu hanya untuk bersapa atau bahkan memberi dukungan pagi via suara. Aku suka menghubungimu untuk memberi tahu apa saja yang terjadi dengan hariku.

Dan tak ada teman yang secara konstan bertukar pesan hanya untuk memberi kabar bahwa “Kamu dimana? Aku kangen kamu.”

Tidak ada. Menjadi seorang teman serta pihak yang memiliki perasaan bukanlah peran yang bisa kujalankan terlalu lama.

 

Karena aku tak akan pernah tahan untuk memikirkan bahwa kamu bisa saja di sana bersama dengan seseorang lainnya.

image: tumblr.com

Tentu saja, aku selalu ingin kamu berbahagia. Kamu bisa berbahagia, namun tidak dengan yang lainnya. Belum saatnya kamu bersama yang lainnya sementara aku di sini berurai air mata memikirkan bagaimana hubungan kita akan berjalan nantinya.

Pikiran-pikiran bahwa mungkin kamu sekarang sedang dipeluk sosok lain membuatku tak berdaya.

Apakah ia akan mengirimkan pesan selamat pagi yang sama untukmu?

Apakah ia juga akan diajak olehmu menikmati matahari terbit di pantai?

Apakah ia juga akan bertemu keluargamu yang selama ini sudah menjadi bagian dari hidupku?

Asal kamu tahu, aku tak ingin tergantikan oleh siapapun.

Dan aku juga tak ingin kamu melihatku bersama yang lainnya. Yang aku inginkan hanya kebersamaan kita jelas adanya, sudah itu saja.

 

Lebih dari apapun, karena aku tak ingin mengulang segalanya dari awal. Dari saat kita berdua belum berjumpa.

Lebih dari apapun, karena aku tak ingin mengulang segalanya dari awal. Dari saat kita berdua belum berjumpa.
image: tumblr.com

Kadang aku berpikir bagaimana hidup akan berjalan ketika kita tak pernah berjumpa. Dan kadang aku berpikir akankah sama jadinya bila kita berada di jalan yang berbeda.

Membayangkannya saja membuatku terluka. Apakah aku akan tetap bertemu denganmu, namun menjadi sosok yang lain? Aku tak tahu.

Tanpamu, mau tak mau aku harus menulis kembali ceritaku. Aku harus kembali memerankan sosok yang selama ini tak pernah kubayangkan.

Aku tak ingin hanya menjadi teman. Karena aku tak bisa jika hanya berteman. Bisakah kamu bayangkan jika menyayangi seseorang dan ia hanya sebatas bayangan?

Maka dari itu, bisakah kita berdua melangkah ke depan? Pun jika kamu tak bisa, aku berjanji akan berhenti mendampingi dan mulai memaksa diri untuk menulis takdirku sendiri.

 

Karena aku menyayangimu, kuharap kamu tahu.

Load Lebih Banyak Artikel Terkait
Load Lebih Banyak Dari Anastasia Jaladriana
Load Lebih Banyak di Hubungan