Beranda › Edukasi › Edukasi

4 Stasiun Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra, Ada Merak hingga Krueng Mane

Mengenal 4 stasiun kereta api di ujung Jawa dan Sumatra, dari Merak, Ketapang, Krueng Mane hingga Tanjungkarang yang punya sejarah menarik.

4 Stasiun Kereta Api di Ujung Jawa dan Sumatra, Ada Merak hingga Krueng Mane
Photo: KAI.id

Piknikdong.com, Edukasi – Jalur kereta api di Indonesia tidak hanya menghubungkan kota-kota besar.

Advertisements

Jika ditarik hingga ke titik-titik terluarnya, rel juga membawa kita pada cerita tentang pelabuhan, kawasan pesisir, perjalanan antarkota, hingga sejarah panjang pembangunan transportasi di berbagai daerah.

Di Pulau Jawa, perjalanan kereta api menjangkau Stasiun Merak di bagian barat dan Stasiun Ketapang di Banyuwangi di sisi timur.

Sementara di Sumatra, layanan kereta api penumpang aktif mencapai Krueng Mane di Aceh serta Tanjungkarang di Lampung.

Advertisements

Masing-masing stasiun punya latar belakang yang berbeda.

Namun, ada satu hal yang mempertemukan semuanya: keberadaan rel yang sejak dulu menjadi bagian dari pergerakan masyarakat dan hingga sekarang masih digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan posisi geografis setiap stasiun membuat perjalanan kereta api memiliki karakter tersendiri.

“Menarik melihat bagaimana rel menjangkau berbagai sisi Jawa dan Sumatra.

Di beberapa tempat perjalanan bertemu dengan pelabuhan dan laut, di tempat lain kereta api menjadi penghubung masyarakat antarkota. Jejak sejarah itu masih digunakan masyarakat sampai hari ini,”

ujar Anne.

Merak, Titik Rel di Ujung Barat Jawa

Di kawasan paling barat Pulau Jawa, Stasiun Merak memiliki hubungan yang sangat dekat dengan aktivitas penyeberangan menuju Sumatra.

Lokasinya berada tidak jauh dari Pelabuhan Merak, salah satu jalur penting yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatra melalui Selat Sunda.

Keberadaan jalur kereta api menuju Merak sendiri sudah berlangsung sejak awal abad ke-20.

Saat ini, Stasiun Merak masih melayani masyarakat melalui lintas Rangkasbitung–Merak.

Letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan juga membuat perjalanan menggunakan kereta api dapat dilanjutkan dengan kapal menuju Bakauheni di Lampung.

Dengan begitu, stasiun ini bukan sekadar titik akhir perjalanan kereta. Bagi penumpang yang hendak menuju Sumatra, Merak menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang menggabungkan transportasi darat dan penyeberangan laut.

Ketapang, Ujung Timur Jawa yang Terhubung ke Bali

Beranjak jauh ke timur, ada Stasiun Ketapang di Banyuwangi.

Stasiun ini menjadi salah satu akses penting bagi perjalanan menuju kawasan paling timur Pulau Jawa sekaligus pintu menuju Bali melalui jalur penyeberangan.

Riwayat perkeretaapian di Banyuwangi sudah dimulai sejak jalur menuju wilayah tersebut dibuka pada 2 Februari 1903.

Seiring perubahan kawasan dan perkembangan aktivitas pelabuhan, jaringan kereta api kemudian mencapai Ketapang.

Posisinya membuat Stasiun Ketapang memiliki peran yang cukup strategis bagi mobilitas masyarakat. Dari sini, perjalanan dapat diteruskan menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Gilimanuk, Bali.

Aktivitas penumpang di stasiun ini juga menunjukkan perkembangan. Pada Januari hingga September 2026, tercatat 615.161 pergerakan pelanggan yang naik dan turun di Stasiun Ketapang.

Angka tersebut terdiri dari 292.618 pelanggan yang berangkat dan 322.543 pelanggan yang tiba. Jika dibandingkan dengan periode Januari–September 2025 yang mencatat 566.643 pergerakan, jumlahnya meningkat 8,56 persen.

Krueng Mane, Jejak Kereta Api di Utara Aceh

Berbeda dengan Merak dan Ketapang yang berkaitan erat dengan jalur penyeberangan antarpulau, cerita Stasiun Krueng Mane di Aceh lebih banyak berkaitan dengan keberadaan layanan kereta api di kawasan utara Sumatra.

Stasiun ini menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif pada jaringan KA Cut Meutia. Jalurnya menghubungkan Krueng Geukueh, Bungkaih, hingga Krueng Mane.

Keberadaan layanan tersebut menunjukkan bahwa kereta api masih mempunyai tempat dalam mobilitas masyarakat Aceh. Di saat yang sama, perjalanan KA Cut Meutia juga menjadi bagian dari jejak panjang perkembangan perkeretaapian di wilayah utara Pulau Sumatra.

Tanjungkarang dan Sejarah Panjang Lampung

Di bagian tenggara Sumatra, Stasiun Tanjungkarang memiliki perjalanan sejarah yang tidak kalah panjang. Keberadaannya berkaitan erat dengan perkembangan jalur kereta api sekaligus aktivitas Pelabuhan Panjang di Lampung.

Pembangunan stasiun dimulai pada 1911 dan kemudian diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada masa awal pengoperasiannya, Tanjungkarang turut digunakan untuk mendukung pergerakan pegawai serta material dari Pelabuhan Panjang.

Seiring waktu, perannya berkembang. Tanjungkarang kemudian menjadi salah satu stasiun penting yang menopang mobilitas masyarakat di Lampung.

Lebih dari 100 tahun sejak pertama kali diresmikan, aktivitas penumpang di stasiun tersebut masih menunjukkan angka yang kuat. Sepanjang Januari–September 2026, tercatat 562.993 pergerakan pelanggan naik dan turun.

Rinciannya terdiri dari 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Angka tersebut tumbuh 13,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika tercatat 493.881 pergerakan.

Dari Ujung Rel, Ada Cerita tentang Mobilitas Masyarakat

Empat stasiun tersebut memperlihatkan bagaimana jaringan kereta api berkembang mengikuti karakter setiap wilayah.

Merak tumbuh berdampingan dengan aktivitas penyeberangan di Selat Sunda. Ketapang menjadi penghubung perjalanan darat menuju Banyuwangi sekaligus akses menuju Bali.

Krueng Mane mempertahankan layanan kereta api penumpang di bagian utara Aceh, sementara Tanjungkarang membawa sejarah panjang perjalanan kereta api di Lampung hingga masa kini.

Anne mengatakan keberadaan titik-titik tersebut memperlihatkan bahwa stasiun memiliki makna lebih luas daripada tempat memulai dan mengakhiri perjalanan.

“Dari Merak yang menghadap Selat Sunda, Ketapang yang membuka perjalanan menuju Bali, Krueng Mane di Aceh, hingga Tanjungkarang yang tumbuh bersama sejarah Lampung, setiap stasiun memiliki cerita wilayahnya sendiri.

Rel menghubungkan cerita itu dengan kehidupan masyarakat hari ini, dan kami ingin konektivitas tersebut terus memberi manfaat bagi perjalanan, ekonomi, keluarga, dan pariwisata di berbagai daerah,” tutup Anne.

Advertisements
Mimin
Mimin
Penulis Piknikdong.com