Bane, Karya dari Laring Tampil di Jagongan Wagen September, Seperti Apa?

Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) kembali mempersembahkan Jagongan Wagen (JW) di bulan September tahun 2021 dengan menampilkan karya dari Laring yang berjudul “BANE”.

LARING adalah ruang kekaryaan bermedium bunyi yang dibentuk oleh Gema Swaratyagita (komponis) sejak tahun 2012.

Foto BTS BANE oleh Laring_JW Sept 2021_Dokumentasi Laring
Foto BTS BANE oleh Laring, JW Sept 2021. Dokumentasi Laring

Diawali dengan sekuel karya pertunjukkan berjudul Laring: Sound of Differences (2012) dan Laring 2: Ragahulu (2013) yang banyak mengeksplorasi bunyi bambu.

Melalui pengalaman karya tersebut lah kemudian Gema berupaya untuk melanjutkan ruang berkarya tersebut dalam sejumlah karya berbasis seni kontemporer, terutama yang berkaitan dengan kerja kolaborasi antar seniman lintas seni, sekaligus menjadi wadah musisi dan seniman untuk mengeksplorasi bunyi.

Pada tahun 2018, Laring juga menampilkan salah satu karya Gema yang berjudul “Tuwakatsa” untuk gong, vokal dan dalang pada International Gamelan Festival 2018 di Solo; Pementasan hibah seni karya inovatif Kelola dengan karya “Tubuka” (kolaborasi dengan Firsty Soe-Lighting Artists dan Fiameta Gabriela-Visual Artist) di Bentara Budaya Jakarta; dan terakhir Gema membawa Laring untuk mementaskan karyanya berjudul “Ngangon Kaedan: Dongeng Polifoni”(2018), “Ngangon Kaedan: Dari Ruang Rahim” (2019) & “Ngangon Kaedan: Jeng Sri” (2020

Karya dari Laring ini merupakan persembahan keempat yang tayang dalam platform Jagongan Wagen di tahun ini.

PSBK akan menampilkan premiere karya baru ini di website jagonganwagen.psbk.or.id yang dapat diakses mulai Jumat, 24 September 2021 pukul 19:30 WIB.

Penayangan Jagongan Wagen juga disertai dengan adanya Closed Caption bagi audiens dengan difabilitas.

Proses pendampingan kuratorial dan penciptaan karya ini berlangsung secara daring antara Jogja dan Jakarta.

Produksi jarak jauh kali ini menjadi upaya yang menantang bagi ruang seni PSBK maupun kreativitas pelaku seni dalam menjawab situasi PPKM Darurat yang telah diberlakukan sejak bulan Juli lalu.

Program Hibah Seni PSBK sejak awal telah menyediakan fasilitas peralatan maupun dukungan SDM keproduksian film karya pertunjukan di lokasi PSBK. Strategi produksi jarak jauh seperti ini menuntut seniman untuk menyediakan semuanya secara mandiri di lokasinya masing-masing.

“Tidak semua seniman mampu melakukan. PSBK sendiri juga perlu menyesuaikan business process-nya dengan mode jarak jauh, mulai dari pendampingan proses pengembangan kekaryaan, distribusi dan pengolahan materi pendukung karya, hingga koordinasi penyelenggaraan penayangan karya.

Maka ketika kami bersepakat untuk meneruskan proses ini, kami apresiasi yang mendalam kepada komunitas Laring dan segenap pendukung produksi karena telah bekerja keras mewujudkan gagasan karyanya agar dapat diakses oleh masyarakat luas.”

ungkap Istifadah Nur Rahma, Program Seni PSBK.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah 3

Jadilah yang pertama memberi peringkat disini.

Kami mohon maaf karena posting ini tidak berguna untuk Anda

Biarkan kami memperbaiki pos ini

Beri tahu kami bagaimana kami dapat memperbaiki pos ini?

FREE 100% Dapatkan info dan penawaran menarik langsung di email! 

Daftar klik disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?