Bubbles & Bites, Sensasi Western Food Yahud di Genting Highlands

Bubbles & Bites – Sebetulnya jarak dari Kuala Lumpur menuju Genting Highlands tidak terlalu jauh. Tapi karena bis kami berangkat dari Bandara KLIA 2 yang berlokasi di Sepang, maka kami perlu waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke kawasan Resorts Worlds Genting.

Hal ini membuat kami membayangkan makan siang yang enak. Atau setidaknya, kami berharap Bang Jay sudah menyiapkan nasi kotak yang akan menemani perjalanan di dalam bis. Jika nasi kotak itu tidak tersedia, bisa saja kami mogok posting.

Ada gula, ada semut. Perut kosong, blogger merengut.

Kenyataan memang seringkali berbanding terbalik dengan realiti. Selama di bis, sebagian besar justru asyik menggapai mimpinya masing-masing –termasuk saya. Jadilah sesampainya di Theme Park Hotel sekitar jam 3, kami malah lungkrah tidak bergairah. Karena tidak ada makan siang, fix kita tinggal berharap Bang Jay mengajak kami untuk makan malam.

Tapi penantian itu tidak berlangsung lama karena pada pukul 5, ajakan dinner itu datang. Ya, jam 5 sore bosquh! Di saat orang-orang kita lagi macet-macetan di jalan pulang kerja, ketika sebagian yang lain masi maen layangan, orang Malaysia sudah makan malam. Hebat nian.

Sempat saya klarifikasi ke teman saya yang orang Malaysia tapi tinggal di luar Genting Highlands, ternyata blio tetap makan malam setelah jam 8. Emm, oke, mungkin beginilah cara warga Genting menikmati senja.

Dari banyaknya tempat makan yang ada di Resorts World Genting, ternyata Bubbles & Bites-lah yang  dipilih sebagai jamuan malam pada hari pertama kami menjejakkan kaki di Negeri Jiran.
Taraaaa Bubbles & Bites

Dari banyaknya tempat makan yang ada di Resorts World Genting, ternyata Bubbles & Bites-lah yang  dipilih sebagai jamuan malam pada hari pertama kami menjejakkan kaki di Negeri Jiran.

Restoran bertipe Continental ini berlokasi tepat di lantai 2 Maxims Hotel. Dari hotel, kami butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke TKP dengan jalan selow sambil haha-hihi.  

Bubbles & Bites, Sensasi Western Foods Yahuds di Genting Highlands
Ngga kaya warung padang, kan?

Meskipun saya yakin mereka tidak akan menyediakan nasi padang ataupun seblak sebagai jamuan makan malam, tapi ada tanda tanya besar yang bergelayut di kepala ketika pertama kali menginjakkan kaki di restoran ini.

Ternyata Western Food!

Setitik kecerahan itu datang. Tidak lama setelah duduk, makanan demi makanan pun dihantarkan oleh mas-mas berpakaian necis. Beberapa detik setelahnya, saya paham bahwa yang akan kami santap malam ini adalah Western Food atau makanan yang berasal dari negeri barat.

Yang pertama kali saya taksir adalah Simply Fresh Hamburger. Sudah beberapa bulan sebelumnya saya ngidam makanan asli Hamburg ini dan belum juga keturutan. Sehingga, rasanya wajar jika  mendekatinya adalah usaha saya untuk menuntaskan keinginan yang tertunda itu.

Bubbles & Bites, Sensasi Western Foods Yahuds di Genting Highlands
Krabby Patty tanpa nasi~

Imbuhan Ham dalam namanya tidak lantas membuat makanan ini menggunakan daging babi ataupun daging berang-berang sebagai poros utama kenikmatannya. Karena halal adalah koentji, daging sapi tetap jadi pilihan. Disajikan bersama keju di dalamnya dan roti bertabur wijen di luarnya, membuat rasanya sangat legit begitu tiba di dalam mulut.

Spaghetti Seafood menjadi sasaran kedua yang siap disikat. Namun mie asli Itali ini dihidangkan tanpa saus. Bagi saya, Spaghetti tidak seharusnya disajikan garingan. Tanpa saos yang melumuri, apa bedanya Spaghetti dengan Sarimi Isi 2 Ayam Kremes yang ada kremesnya doang tapi tidak ada ayamnya?

Pantas saja jika hingga akhir ronde, masih ada beberapa piring mie kering ini yang tidak tersentuh. Yang diambil hanya potongan udang, cumi serta beberapa organisme laut lain yang datang mendampinginya.

Mi mu tidak sebanyak wadah mu

Bisa dibilang, saya blas ndak icip-icip salad. Jadi tidak ada kenangan apapun soal dirinya yang bisa saya ceritakan. Yang jelas, menurut apa yang terjadi di lapangan, di dalam komposisi salad tersebut tidak terdapat buah duku, daun talas ataupun rumput teki.

Bubbles & Bites, Sensasi Western Foods Yahuds di Genting Highlands
Sebelum dibabat habis, nih…

Menariknya, makanan semenarik Chicken Wings disajikan belakangan. Tepat ketika obrolan-obrolan santai mulai mengudara serta beberapa yang lain sudah terkapar kekenyangan. Kedatangan Chicken Wings mampu menjadi sorotan dan menarik antusiasme warga blogger, terutama yang dari Indonesia. Bukan untuk dicemil, tapi untuk dipoto.

Motto hidup blogger Indonesia barangkali adalah,

Jepret dulu, santap belakangan

Cerita selanjutnya bisa ditebak dengan mudah : sepotong demi sepotong sayap ayam yang malang itu disusun sedemikian rupa supaya terlihat aestethique ketika di ambil gambarnya. Jangan lupakan beberapa helai daun supaya efek nature-nya lebih kentara, serta background ala-ala supaya lebih catchy. Akhirnya, semua berburu mengabagikan momen bersama ayam –termasuk saya.

Tak seindah rupanya yang coklat-coklat eksotis, rasa ayam ini tidak terlalu yahud. Sepertinya memang sayap ayam (yang malang) ini cuma digoreng separo matang, sehingga dagingnya tidak tergoreng secara merata. Malah bagian dalam dagingnya terasa cukup hambar untuk lidah orang Indonesia yang terbiasa nyemilin micin. Wajar rasanya jika Chicken Wings ini juga tidak ludes.

Bubbles & Bites, Sensasi Western Foods Yahuds di Genting Highlands
Terciduk, Kak Gio dan Ci Lenny sedang poto2 ayam tersayang

Meskipun begitu, asas ‘tidak mau rugi’ yang kita pegang teguh selama hidup di Indonesia tetap kami junjung tinggi, dengan cara membungkus sayap ayam sisa tadi buat di bawa ke kamar. Teteup doyan urang mah!

Beda lidah, beda selera

Bagian paling huft dari kunjungan makan malam di Bubbles & Bites ini adalah ketika salah seorang di antara kami meminta sambal. Sebenarnya memang sudah ada senyawa–berwarna-merah-mirip-saus yang datang bersama Hamburger dan tersedia di meja kami, tapi kok ya rasanya nga ada pedas-pedasnya.

Si Mz Petugas bilang kalau yang ada di meja kita itu sambal. Merasa harus menelisik lebih dalam, kami coba lagi zat berwarna merah itu dan rasanya benar-benar mirip saus tomat ABC : kecut-kecut mengesalkan. Sebagai bangsa yang (barangkali) mencintai cabai sejak dalam kandungan, bagi kami, rasa pedas dalam makanan model begini adalah harga mati.

Mz Petugas berbaju ungu itu kembali kami panggil untuk mempertanggungjawabkan perkataannya. Setelah tetap ngotot bahwa yang kita santap daritadi adalah sambal, Si Mz Petugas itu tanpa disangka-sangka mengambil senyawa-yang-dia-sebut-sambal-tapi-rasanya-kaya-saos-tomat itu dan menggunakan indra penciumannya yang tajam dan mencoba mengidentifikasi ulang.

Blio berpikir sejenak dan agak menunduk beberapa miliseken setelahnya. Kemudian , dia mendongakkan kepala. Air mukanya sedikit berubah. Sambil mengembalikan apa yang tadi habis diciumnya tadi kepada kami, dia (kira-kira) berkata,

“Ini sambal, bhang!”

Sejujurnya kami tidak ingin ketegangan terus berlanjut. Dan karena pasrah bukan berarti kalah, kami diam dan menyerah.

Eh lha kok tidak lama setelah itu, rasa pedas mulai menggigit-gigit kecil lidah kami. Sebuah aftertaste yang tidak bisa diberikan oleh saos tomat merek manapun. Yang pada akhirnya membuat kami yakin bahwa si Mz Petugas tadi benar.

Dan membuat kami sadar bahwa beginilah cara orang Malaysia menikmati sambal.