Desa Tawangsari, Memperkenalkan Sejarah Dengan Kirab Budaya

Desa tawangsari merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta.

Desa kecil berada di Yogyakarta bagian barat ini memiliki tradisi yang sangat unik, yakni dengan mengenalkan sejarah desa dengan acara kirab budaya.

Kirab budaya kali ini bertepatan dengan hari Bersih Desa atau sering juga disebut “Merti Desa”. Kirab Budaya Tawangsari digelar sangat meriah dengan menampilkan karya unik setiap dusun dan diarak dari titik poin berkumpul menuju Balai Desa Tawangsari.Kirab Budaya Soropadan

Seperti judul diatas, bahwa kirab budaya ini bertujuan untuk memperkenalkan sejarah dan mempertingati terbentuknya Desa Tawangsari.

Secara anak muda jaman sekarang kurang tertarik untuk membaca sejarah desanya. Jadi dengan adanya kirab budaya ini, mereka akan tau bagaimana sejarah terbentuknya desa yang mereka tempati.

Ucap bapak Tri Sulistiyo, selaku sekertaris Desa Tawangsari yang akrab dipanggil cuplos itu.

Konon ceritanya, sebelum menjadi Desa Tawangsari ada dua kelurahan, yakni Kelurahan Janturan yang terdiri dari 8 pedukuhan dan Kelurahan Jombokan yang terdiri dari 5 pedukuhan.  Nah sekitar tahun 1940-an digabungkanlah kedua kelurahan tersebut menjadi satu nama “Desa Tawangsari”.

Kirab budaya ini mempresentasikan bagaimana bergabungnya kedua Kelurahan tersebut dengan membagi kedua gunungan dari wilayah timur yang dulu masih bernama Janturan dan dari wilayah barat yang bernama Jombokan. Gunungan Desa Tawangsari

Kedua gunungan tersebut disatukan di Balai Desa Tawangsari kemudian diserahkan ke Kepala Desa Tawangsari.

Untuk mengiringi tumpeng “Gunungan” setiap dusun mengirimkan berbagai karya terbaiknya dalam bentuk seni dan budaya, salah satu yang sangat unik adalah Gojek kentongan dari dusun Soropadan.Memperkenalkan Sejarah desa dengan kirab budaya

Selain kirab budaya, juga berlangsung acara Bersih Desa atau sering juga disebut dengan “Merti Desa”, dimana mana dari acara tersebut adalah wujud rasa syukur telah diberikanya keselamatan, kesehatan, dan hasil panen petani yang melimpah, serta tentu saja untuk memupuk tali silaturahmi antar warga desa.

Perhelatan kedua acara kirab budaya dan bersih desa bisa dibilang sangat sukses dilihat dari antusias warga yang sejak pagi mengikuti berbagai acara.

Untuk malam harinya ditutup dengan pergelaran Wayang kulit dengan Dhalang Ki Wisnu Hadi Sugito semalam suntuk.

Seorang mimin piknik yang punya hobi piknik namun sangat kurang piknik. Walaupun begitu mimin ini selalu mengajak orang untuk piknik.
Karena piknik ini sekarang sudah menjadi kebutuhan

BAGIKAN
Komentarmu?