Mengurung Rindu di Angrkingan Batas Kota Jogja

Lampu temaram berjajar dari perempatan Monjali lurus ke selatam sampai perempatan selokan mataram. Dulu belum ada lampu merah di tempat itu, jalan masih lancar, sampai suara gerojokan selokan kecil masih terdengar jelas jika lewat, kini beriak-beriak tak terdengar lagi meski didengarkan hati hati, deru kendaraan lebih pekak dari apapun, tapi sudahlah, Jogja aku selalu mencintaimu.

Mungkin bagi banyak orang Jogja adalah Candi Prambanan atau Candi Borobudur, atau Jogya adalah Pantai Parangtritis, atau yang lebih ikonik Jogja adalah Malioboro. Tak apa juga jika dianggap seperti itu, memang tempat-tempat itu adalah gambar utama yang sering terpampang di brosur para agen travel.

Tapi jangan salah sangka. Jogja bukan hanya sekedar wisata ke satu tempat, ada yang lebih mendalam dari Jogya, bahwa Jogya adalah kesederhanaan. Dalam orasi kalem para orator umum bagi kita terdengar kata “seyogyanya” yang kurang lebih berarti “sepantasnya“. Maka Jogja bukan kemewahan atau keglamoran, Jogja adalah kepantasan, fleksibel dan menghargai siapapun kepada mereka yang kulonuwun bertamu ke tanah Mataram ini.

Dari perempatan UGM masih terus ke Selatan, jalan yang lumayan lebar untuk dilalui dua arah kendaraan, bahkan suasana yang segar jika kita melaluinya agak lebih malam. Jalan masih dalam nama Jalan Monjali, banyak huiasan-hiasan lampu bulat serta bangunan khas kolonial yang tertata rapi di area pemukiman.

Menghabiskan muara jalan Monjali maka akan terpampang gapura besar dengan tulisan

” Selamat Datang – Kota Yogyakarta”

Jalan Monjali masih masuk kawasan Kabupaten Sleman, di batasi oleh Gapura dan KM 0 Jalan A.M Sangaji.

Angkringan Batas Kota
Angkringan Batas Kota, Photo By IG : @enirohayatun

Di kiri jalan, trotoar akan dipenuhi tikar orang- orang duduk bersantai menikmati jajanannya, disinilah tujuan utamaku jika aku singgah di Jogja, sebuah gerobak sederhana dengan aneka macam hidangan diatasnya, kuning lampu jalan serta suara tertawa dari diakusi kecil antar kawan, sungguh menyamankan. Dan yang paling mengenang, sebuah terpal biru untuk atap Angkringan yang bertuliskan

“Angkringan Wedang Secang”

Jika mau singgah, kita akan benar-benar menemukan (yang betul-betul) Jogja di tempat ini, sebuah kesederhanaan, Kopi Jos, Teh Hangat, Nasi Kucing Sambel Teri dan Ramah Senyum Penjualnya.

Menu Angkringan Batas Kota Jogja
Menu Angkringan Batas Kota Jogja

Di Lagu “Yogyakarta” yang dinyayikan Mas Katon Bagaskara, Jogja diceritakan sebagai tempat yang dirindukan, jadi Jogja bukan sekedar wisata dan tujuan liburan, lebih dari itu, ia seperti menemukan kekasih, saat kau jauh darinya tiba-tiba hatimu tak tenang karena jauh meninggalkannya, dan saat kau jauh itu, kerinduanmu tak tertahankan untuk cepat kembali.

Meskipun tempat tempat lain menawarkan view yang lebih menawan, arsitektur tempat yang rupawan serta cerita sejarah yang mengesankan, kesederhanaan Jogja adalah sebenar-benarnya tujuan, tentang kesederhanan terindah, selalu mengurung kesan dan kenang, serta jejak dan bekas yang tak pernah hilang.

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

BAGIKAN
Komentarmu?