Muntuk Bamboo Carnival, Sebuah Ekspresi Masyarakat Pengrajin Bambu

Muntuk Bamboo Carnival merupakan wujud ekspresi masyarakat pengrajin bambu dalam menysukuri anugrah dari Tuhan melalui bambu.

Berawal dari sebuah Padukuhan Tangkil berlanjut ke Pedukuhan Karangasem kerajinan bambu menjadi bagian penting dari kebudayaan Masyarakat Muntuk. Kerajinan bambu telah mendampingi manusia Muntuk dalam bertahan hidup. Kerajinan Bambu tidak bisa tidak telah menjadi bagian dari identitas Muntuk.

Muntuk Bamboo Carnival
Muntuk Bamboo Carnival

Muntuk Bambu Carnival menjadi ajang pertunjukan kreatifitas bambu. Selain itu Muntuk Bambu Carnival menjadi etalase kebudayaan dalam rangka menunjukan jatidiri manusia Muntuk.

Melalui event tersebut Manusia akan menghargai bambu, Masyarakat akan menghargai EMPU-EMPU pengrajin Bambu, melalui Muntuk Bambu Carnival sejarah kerajinan Bambu Muntuk akan dibongkar dalam kemasan Wayang Bambu, yang akan mengangkat lakon Honggowongso Maneges. Lakon tersebut akan sedikit mengiris sejarah Mataram di masa Amangkurat Agung yang berkraton di Pleret.

Wayang Bambu
Wayang Bambu

Honggowongso adalah sosok setia di Mataram masa itu, namun setelah berbagai peristiwa kekejaman yang dilakukan oleh Amagkurat Agung membuat nurani Honggowongso terusik.

Booking.com

Sebagai orang yang setia ia harus mengikuti perintah Raja menghukum mati sahabatnya sendiri Kyai Dalang Panjang Mas, Algojo Keraton Sogol Suronoto dan Songkel Reksodana sebagai andahan Honggowongso terpaksa melakukan eksekusi sebagai perwujudan kesetiaannya pada Amangkurat Agung, namun sesungguhnya Honggowongso, Songkel Reksodana, dan Sogo Sorengnata tahu bahwa Kyai Dalang Panjang Mas tidak bersalah.

Hati nurani Honggowongso berontak dan membuat dia berani keluar meninggalkan kamukten di keraton pleret hingga ia sampai di sebuah sumber air yang bernama Sendang Sinongko, disitulah Honggowongso mendapat petunjuk dari Tuhan dan bulatlah tekadnya untuk membuka kehidupan baru area Sendang Sinongko distulah lahir sebuah pedukuhan yang bernama pedukuhan Tangkil.

Sebagai seorang yang terbiasa dengan gelimang kemewahan di keraton Honggowongso tidak mempunyai tenaga dan keahlian yang cukup dalam bertani, akhirnya Honggowongso memilih untuk membuat Kalo (sebuah kerajinan Bambu penyaring ampas kelapa) dalam jarwo dosok Jawa Kalo bisa diartikan Akale Lho. Itu kelebihan Honggowongso menggunakan kreatifitasnya untuk bertahan hidup.

Kemudian Istri dan anak-anaknya Den Bagus Kuncung dan Siti Sendari pun diajak ikut serta hidup damai di pedukuhan Tangkil. Nyi Honggowongso juga dengan kratifitasnya menghasilkan masakan dari bambu yaitu Lodeh Bung (Bambu Muda) dan Gudeg Bung Den Bagus kuncung kemudian mengembangkan wilyah di selatan Pedukuhan Tangkil yang akhirnya bekembang menjadi Padukuhan Baru yaitu Pedukuhan Karangasem, sementara Siti Sendari mengembangkan wiyah di bagian timur Pedukuhan Tangkil.

Dari situlah budaya kerajinan bambu berawal dan sudah menjadi naluri masyarakat Pedukuhan Tangkil.

Memahami sejarah asal usul, menjadikan kita mampu menghargai pilihan sikap nenek moyang, keberanian Honggowongso meninggalkan kamokten demi menghargai kebenaran atas nilai nilai dasar kemanusian.

Pelajaran berikutnya bahwa pilihan di jalan kebenaran akan dibimbing oleh Tuhan dan akan diberikan kecukupan. Tidak ada kekhawatiran jika manusia memilih bersama Tuhan. Agenda akan diawali dengan Kenduri Bambu masyarakat sesepuh adat, pamong praja, Empu-Empu Kerajinan akan dimuliakan, serta akan menggelar doa bersama. Kami juga megajak siapa saja yang mau mngikuti kenduri bambu tersebut dan bersama-sama menghargai alam.

Fashion Bambu Carnival
Fashion Bambu Carnival

Berikut urutan agenda Muntuk Bambu Carnival:

1. Kenduri Bambu
2. Meet & Graet Mbah Sinul (Sosok pengrajin Sepuh yang eksis)
3. Wayang Bambu
4. Pemutaran Film
5. Pasar Tupah dan Pameran Kerajinan
6. Fashion Bambu Carnival

Acara tersebut akan digelar dari tanggal 14 April 2018 hingga 21 April 2018, di wisata Pintoe Langit dan Lintang Sewu.

Untuk detail jadwal akan dipublish di Instagram @muntukbamboocarnivl dan @pintoelangit. Muntuk Bamboo Carnival merupakan bagian dari gelaran FESTISAKA (Festival Seni Alam Terbuka). Kami mengajak siapapun untuk kembali menghargai semesta raya, kami mengajak siapapun untuk mengabarkan budaya menghargai dan mensyukuri anugrah alam yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Seorang mimin piknik yang punya hobi piknik namun sangat kurang piknik. Walaupun begitu mimin ini selalu mengajak orang untuk piknik. Karena piknik ini sekarang sudah menjadi kebutuhan
BAGIKAN
Komentarmu?