Pameran Ways Forward: Bersama2 di HONF Lab Yogyakarta

Berbagai berita tentang perubahan iklim, kerusakan keanekaragaman hayati, kepunahan spesies, dan efek dari perilaku buruk yang menimbulkan ketidakberkelanjutan lingkungan hidup semakin mendapat sorotan oleh media seperti analisa terhadap kelamnya masa depan hingga suara-suara tentang perubahan. Namun satu hal yang pasti, kita tidak boleh diam saja terhadap status quo karena kita sudah kehabisan waktu.

Ada berbagai banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan di ranah publik maupun privat. Proyek Ways Forward yang dikerjakan oleh seniman Hungaria bernama Eva Bubla menginvestigasi kontribusi antar artistic-aktivis: dengan cara melakukan aksi bersama dan menggabungkan praktik-praktik yang kritis dan kreatif.

Eva Bubla ini adalah seorang seniman sekaligus aktivis yang berasal dari Hungaria. Karyanya mengartikulasikan masalah sosial dan ekologikal masa kini dan berkaitan erat dengan lingkungan dan komunitas tertentu. Terkadang, hal tersebut berarti instalasi site-spesific, karya seni publik atau performance art yang mencerminkan hubungan antara manusia dan lingkungan, hingga proyek komunitas yang bertujuan untuk mengatasi masalah keberlanjutan. Proyek-proyeknya sering disertai dengan lokakarya yang berfokus pada anak muda sebagai agen utama perubahan.

Pada akhir Februari, Proyek Ways Forward ini melibatkan para mahasiswa Kelas Seni Rupa Eksperimental di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam diskusi kelompok terarah. Diskusi ini mengeksplorasi berbagai alternatif dan pendekatan eksperimental dalam praktik artistik, diskusi ini juga membahas tentang kemungkinan seni dan seniman berperan dalam krisis ekologi.

Para mahasiswa mengidentifikasi berbagai masalah yang mendesak dan kemungkinan campur tangan dan reaksi secara artistik. Diskusi serupa juga diadakan di UGM pada akhir bulan Maret melibatkan mahasiswa jurusan arsitektur, guna mempelajari hubungan antara seni, desain dan ekologi.

Ways Forward Lecture UGM
Ways Forward Lecture UGM

Dalam diskusi yang dilakukan, karya Eva telah melalui uji coba melalui alat pendeteksi asap dan karbondioksida yang dibuat oleh HONF Fab Lab.

Bagi Eva Bubla, masalah yang kita hadapi saat ini adalah perlunya penggunaan tanaman sebagai filter udara, mengingat perlunya penghijauan di daerah perkotaan. Dalam skala global, urbanisasi berkembang sangat pesat menyebabkan hilangnya daerah pedesaan bahkan berubah menjadi kota padat penduduk menyebabkan meningkatnya polusi udara karena lalu lintas yang padat. Di balik itu, perencanaan kota masih menjadi perdebatan.

Di Yogyakarta, Peraturan No. 26/2007 menyatakan bahwa 30% dari total wilayah kota harus digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), dimana 20% adalah RTH publik dan 10% adalah RTH pribadi. Peraturan ini dapat berperan penting dalam pengurangan polusi udara, namun studi kasus menunjukkan bahwa praktiknya belum sepenuhnya dilaksanakan.

Selain itu, masalah yang timbul dari polusi udara tidak hanya sesuatu yang ada di luar ruangan tetapi juga masalah yang ada di dalam ruangan. Seperti contoh kecilnya adalah kegiatan rumah tangga seperti memasak dapat memancarkan berbagai partikel yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, bahkan merokok juga dapat menurunkan kualitas udara didalam ruangan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang efek dari berbagai aktivitas manusia serta pentingnya keberadaan area hijau dan tanaman dalam mengurangi tingkat polusi. Terinspirasi dari Laporan NASA tahun 1989 yang meneliti dan menguji berbagai tanaman yang paling efektif untuk memurnikan udara dalam ruangan, proyek ini menggunakan tanaman Sansevieria (lidah mertua) sebagai bentuk kritis dalam merefleksikan topik polusi udara dalam serangkaian objek, instalasi dan praktik masyarakat.

Advertisements

Pada tanggal 29 Maret 2019, lokakarya diadakan bersama Sekolah Akar Rumput. Lokakarya yang diadakan memberikan kesempatan bagi para siswa untuk bereksperimen secara mandiri menggunakan mekanisme air purification devices yang sudah tersedia.

Ways Forward Workshop Sekolah Akar Rumput
Ways Forward Workshop Sekolah Akar Rumput

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak terhadap bahaya polusi udara dan membiasakan mereka dengan material, mekanisme, dan perubahan gaya hidup yang bermanfaat bagi lingkungan.

Sekolah Akar Rumput merupakan sekolah yang bersifat terbuka dalam kerja bersama, mereka menerapkan cara-cara alternatif dalam pengajaran dan menjadikan praktik yang bersifat ekologis sebagai bagian penting dari kurikulum.

Hasil proyek Ways Forward: bersama2 akan mulai dipresentasikan di Laboratorium HONF (Jl. Langenastran Lor 16 Yogyakarta)  dan dibuka secara resmi pada Jumat, 5 April 2019 pukul 19.30 oleh Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Judit Pach.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata / 5. Jumlah

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Ketika piknik menjadi sebuah kebutuhan, maka pikniklah
BAGIKAN
Komentarmu?