Berpuncak Pada Tulus di Penutupan, MocosSik Festival 2019 Sukses Digelar

Konsorsium Penerbit Jogja (KPJ) yang berisi berbagai penerbit di Yogyakarta, telah melaporkan praktik pembajakan buku yang selama ini berlangsung, khususnya di Yogyakarta pada hari Minggu, (25/8/2019) kepada polisi. Dalam konferensi pers yang berlangsung di panggung MocoSik, mengecam tindakan pembajakan buku.

Salah satu pilar tumbuh kembang Yogyakarta adalah banyaknya penerbitan. Tetapi, pembajakan Buku di Jogja juga berlangsung di jantung kota ini. Buku bajakkan tidak lagi diedarkan secara bawah tanah, tetapi terang-terangan. Bahkan menjalar hingga ke gerai-gerai online.

Melawan Pembajakan Buku, Dok Official MocoSik Festival
Melawan Pembajakan Buku, Dok Official MocoSik Festival

Direktur Program MocoSik Festival kali ini, Irwan Bajang, mengatakan bahwa dalam pameran buku MocoSik, sebagai bentuk komitmen, tidak boleh ada buku bajakkan. Selain itu, kata dia, MocoSik juga akan bekerjasama dengan para artis untuk mengkampanyekan anti pembajakkan buku.

Nursam, dari penerbit Ombak, berharap bila laporan ini bakal segera ditindak oleh aparat berwenang. Karena, baginya, industri yang tengah dirongrong ini turut membantu pembangunan SDM yang kini tengah digalakkan. Jadi, kata dia,

“Ini persoalan kebangsaan, bukan persoalan personal, persoalan penerbit,”

Tegasnya.

Praktik pembajakan buku kini juga lebih berani. Hairus Salim (Penerbit Gading) menemukan beberapa toko buku di Shoping Center yang kini secara terang-terangan menjual buku bajakan. Meski sudah berlangsung sejak sekian tahun lalu, tapi menurutnya,

“Dulu masih ada rasa malu.”

Ia khawatir, bila tindak pembajakan ini dibiarkan, peradaban akan mati. Karena, kata dia, memproduksi buku itu proses yang kompleks. Akan sangat tidak fair bila ada beberapa pihak yang dengan sadar mencari jalan pintas.

Artie Ahmad dari Komunitas Penulis Satupena mengatakan bahwa mereka juga tengah bergerak melawan pembajakkan buku. Untuk itu, mereka telah dibersamai oleh pengacara.

“Kami bantu untuk melawan dengan jalur hukum,”

Jelas Artie. Selain mendapat dukungan dari Satupena, KPJ juga telah dibersamai oleh pengacara dari Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN).

Pada Konferensi Kerja Nasional IKAPI tahun ini, kata Wawan Arif dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Yogyakarta, pembajakkan buku juga mendapat sorotan dari penerbit.

Dicontohkkan Agus Noor, industri musik juga pernah runtuh akibat tindak pembajakkan. Ia tidak mau bila hal yang sama terjadi di industri buku. Namun, selama ini, itu bukanlah alasan satusatunya kenapa pembajakkan terus melenggang. Ada juga faktor pembeli yang menganggap buku bajakkan lebih murah. Sebab itu, Noor memandang bahwa selain menghentikkan pembajakkan, perlu dilakukan edukasi pada konsumen.

“Negara bertanggung jawab atas pembajakan ini,”

Pekik Hinu OS, penggerak KPJ, diikuti oleh seluruh peserta konsorsium mengakhiri konferensi pers.

Berpusat pada Keluarga Pram

Selain konferensi pers yang duadakan di Panggung MocoSik, obrolan mengenai Pramoedya Ananta Toer di mata keluarga adalah yang paling menyedot perhatian.

Tidak hanya mengundang anak dan cucu-cucu Pram, turut juga diundang Sha Ine Febriyanti dan Whani Darmawan (pemeran Darsam dan Nyai Ontosoroh dalam film Bumi Manusia). Sebelum dilangsungkan obrolan Pram di mata keluarga, Ine dan Whani terlebih dulu membacakan nukilan roman Pram, Bumi Manusia.

Astuti Ananta Toer, putri Pram, mengenang sang ayah sebagai pribadi yang tegar. Ia tak mau terlihat lembek. Kata Tuti, sapaan Astuti, pernah suatu ketika ia diajak menjenguk Pram di penjara. Lantas ia bertanya keadaan sang ayah. Namun Pram juga tak bilang, padahal, telinga sang ayah baru saja kena popor senapan.

Lain lagi cucu-cucu Pram. Ingatan kolektif mereka terhadap sang Opa -begitu sapaan akrab mereka dengan Pram- tertumpu pada tugas-tugas yang diberikan oleh Pram. Kenang mereka, Pram selalu meminta membaca.

Setelah tuntas membaca, mereka akan diberikan pertanyaan oleh Pram. Kenang Angga, salah seorang cucu Pram dan kini turut mengasuh Lentera Dipantara -tempat seluruh buku Pram diterbitkan- dia bertemu Pram tiap akhir pekan. Dan itu selalu jadi momok karena Pram pasti bertanya tentang perkembangan bacaanya. Selain itu, cucu-cucu Pram juga mengenang soal hobi Pram yang lain, yakni bakar sampah.

Advertisements

Bakkar Wibowo, co-founder MocoSik, yang pernah terlibat di masa-masa awal Lentera Dipantara juga urun bicara. Kata dia, sekarang, beberapa novel-novel Pram yang lenyap dipasaran juga tengah disiapkan oleh Lentera Dipantara. Novel-novel itu, seperti Arus Balik, Perburuan, dan Sang Pemula. Tentu hal itu menggembirakan bagi dunia penerbitan di Indonesia, novel Pram bakal terbit lagi.

Selain keluarga Pram, MocoSik hari terakhir ini juga turut mengundang Okky Madasari dan juga John McGlynn yang membincang ihwal karya sastra Indonesia dipandang dari luar dan dalam.

Pendokumentasian musik di Indonesia, Dok. Official MocoSik Festival
Pendokumentasian musik di Indonesia, Dok. Official IG : @MocoSikFestival

Di sesi pamungkas, David Tarigan (Irama Nusantara), Henky Herwanto (Museum Musik Indonesia), Adib Hidayat (Billboard Indonesia) dan Erie Seitawan (Art Music Today) juga urun bicara seputar pendokumentasian musik di Indonesia.

Berpuncak Pada Tulus di Penutupan MocosSik Festival 2019

Sejak siang menjelang sore, antrean sudah mengular hingga beranda JEC. Animo penonton konser Tulus yang didapuk sebagai penutup MocoSik menunjukkan tuahnya.

Tak hanya Tulus, Pusakata yang digawangi Muhammad Istiqamah Djamad juga menyedot antusias. Begitu pula musisi pengisi lainnya, seperti Ecoutez! Dan Guyon Waton.

Kala Tulus naik panggung, tepuk sorai penonton mengiringinya. Membawakan tembang populer, seperti “Gajah” dan “Monokrom”, Tulus sekan berhasil menghipnotis penonton.

Berpuncak Pada Tulus di Penutupan MocosSik Festival 2019
Berpuncak Pada Tulus, Dok Official IG : @mocoSikFestival

Di sela-sela penampilan, Tulus juga mengumumkan dalam waktu dekat dia akan tur dalam konser peringatan sewindu Tulus berkarier. Tak pelak, penikmat musik MocoSik kembali riuh. Panggung MocoSik Festival 2019 sampai membeludak, tak kuasa menampung jumlah animo penonton. MocoSik Festival 2019 (MocoSik #3) kali ini sukses digelar dan sampai ketemu di MocoSik Festival 2020 (MocoSik #4).

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata / 5. Jumlah

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?