Penyerahan Penghargaan MKF 2022 Hasta Makirtya Rupa

Karya berjudul ‘Capricornalter’ terpilih menjadi karya terbaik pada pagelaran Matra Kriya Festival 2022 (MKF 2022), ‘From Hands to Something-Hasta Makirtya Rupa.

Karya tersebut merupakan karya dari seniman muda, Muhammad Alhaq dari Jawa Timur.

MKF2022 PENYERAHAN HADIAH OLEH PERWAKILANA DINAS
MKF2022, Penyerahan Hadiah Oleh Perwakilan Dinas

Selain dari kategori karya terbaik, juga diumumkan dan diserahkan tiga pemenang dari kategori lainnya yakni Markus (Kepulauan Riau) dengan judul karya ‘Pesona Gonggong’.

Pada kategori Inovasi dan Kreasi; Lilik Nurkhamid (Jawa Timur) dengan judul karya ‘Sahita Andaru’ di kategori local content; dan Anton Nurcahyo  (D.I Yogyakarta) dengan judul karya ‘Harmony Kwek-Kwek’ pada kategori karya favorit.

Pengumuman dan penyerahan penghargaan disampaikan di Ruang Galeri Taman Budaya Yogyakarta, Jumat 27 Mei 2022.

Keempat karya tersebut terpilih dari 12 karya nominasi yang lolos pada gelaran ini.

Semua karya dinilai oleh 3 dewan juri yakni Dr., Alvi Lufiani, S.Sn., M.F.A., Novi Bamboo, dan Lejar Daniartana Hukubun.

Alvi Lutfiani mengungkapkan, karya Muhammad Alhaq, merupakan distorsi tanah liat dengan mengeksporasi medium tanah liat secara lebih bebas.

MKF2022 KARYA TERBAIK CARPICORNALTER
MKF2022, KARYA TERBAIK CARPICORNALTER

Perupa mengangkat zodiak Capricorn yang menggambarkan diri pribadinya yang pendiam. Bagi Haq, Capricorn ada korelasi dengan elemen tanah.

“Karya Haq merupakan alih wahana dari sebelumnya merupakan karya drawing menjadi karya 3 dimensi dengan menggunakan media ceramic.

Display karya menggunakan drum putih dengan lampu diatasnya yang kemudian tergambar sebagai cincin biru saat kita melihat ke bawah (lantai).

Penyajian karya yang menarik dengan gambaran tokoh artefak jerapah yang memegang artefak stang sepeda, bola dan lain-lain dengan berbagai macam kegiatan mereka.

Memiliki keunikan tersendiri, keindahan, kesesuaian dengan material display yang semuanya merupakan satu kesatuan yang sangat mendukung,”

jelas Alvi.

Karya Markus, tambah Novi, sarat dengan inovasi.

“Juri sempat ‘tertipu’ akan penggunaan material yang kami kira adalah kulit yang keras dan dibuat melengkung karena tekstur dan bentuk seperti kulit keras yang diolah menjadi lampu.

Karya masuk dalam kategori simple, tetapi penuh dengan muatan lokal sebagai ide dan konsep dan diolah dengan kreativitas tangan Markus sehingga menjadi sesuatu yang bisa dinikmati dan sarat makna,”

ujarnya.

Diungkapkan Lejar, karya Lilik terlihat hidup dengan adanya warna prada emas yang mendapat pengaruh gaya dari Bali. Lokal konten sangat kuat dan secara overall indah dilihat.

Sedangkan pada karya Anton, terdapat keterlibatan erat antara karya dengan perupa. Penggunaan bahan berupa kawat yang tidak terpakai menjadi tantangan dalam pengolahan material, karena kawat tidak sekuat besi pada saat dilakukan pengelasan. 

“Sepekan penyelenggaraan MKF 2022, terlihat antusias luar biasa dari masyarakat, baik secara langsung berpartisipasi ataupun yang datang memberi apresiasi pada karya yang disuguhkan.

Kolaborasi yang apik juga terbangun antara penyelenggara MKF 2022 dengan stageholder yang terlibat; seniman, pelaku UMKM, hingga desa budaya,”

ungkap Dra.

Y. Eny Lestari Rahayu selaku Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Kundha Kabudayan DIY yang mewakili  Kepala Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, S.S., M.A.

Diungkapkan Eny, MKF 2022 membuktikan bahwa seni kriya mempunyai potensi untuk terus maju berkembang.

Seni kriya menjadi salah satu penopang industri kreatif yang identik dengan craftmanship yang tinggi. 

“Seperti yang kita ketahui, ekonomi kreatif mengandalkan sumber daya sebagai modal utama, terutama proses penciptaan, kreatifitas, keahlian dan talenta individual.

Seni kriya di Indonesia menjadi salah satu subsektor yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Kami berharap ajang ini dapat memberikan dampak positif terhadap kemajuan seni kriya di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,”

papar Eny. 

Pada kesempatan tersebut, juga dimeriahkan Tari Kontemporer Komunitas Madhing Dance Crew  yang membawakan tarian Sabda Alam.

MKF2022 KERONCONG TEMAN SETIA
MKF2022, Keroncong Teman Setia

Selain itu, tampil pula orkes keroncong Teman Setia yang menghibur segenap tamu undangan. Tampil pula fashion carnival dari Sanggar Anggrek, SMK Negeri 1 Saptosari Gunungkidul, dan Ontoseno Production.

Antrian pada pintu masuk Ruang Galeri Taman Budaya Yogyakarta masih saja terlihat.

Puluhan pengunjung dari berbagai usia memadati pintu masuk ruang pameran MKF yang digelar hingga 28 Mei 2022. 

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah 1

Jadilah yang pertama memberi peringkat disini.

Kami mohon maaf karena posting ini tidak berguna untuk Anda

Biarkan kami memperbaiki pos ini

Beri tahu kami bagaimana kami dapat memperbaiki pos ini?

Ikuti berita dan info menarik lainnya dari Piknikdong di Google News!