Platform Perupa Muda Biennale Jogja 2019, ‘Dari Batu, Air, dan Alam Pikir, Untuk Udara & Kehendak Bebas Manusia’

Pameran ini menampilkan karya-karya dari 16 seniman/kelompok seni. Seniman/kelompok seni terpilih merupakan bagian dari proses penjaringan seniman partisipan Biennale Jogja Equator #5, khususnya yang berusia di bawah 35 tahun.

Usaha penjaringan seniman muda ini dirasa penting bukan saja untuk merangkul dan memberi ruang bagi seniman muda yang di Yogyakarta, melainkan juga sebagai cara untuk menjalankan salah satu fungsi perhelatan ini, yakni usaha-usaha pendidikan seni.

Platform Perupa Muda Biennale Jogja 2019
Platform Perupa Muda Biennale Jogja 2019

Tim kurator Biennale Jogja Equator #5 lantas melakukan pendampingan intensif kepada 16 seniman/kelompok seni terpilih dalam pameran ini. Karya mereka kemudian berkembang. Tidak jarang mereka menemukan ide dan bentuk baru yang berbeda dari yang semula mereka ajukan.

Karya-karya yang terpilih juga coba direlasikan dengan narasi pinggiran; narasi yang menjalin Biennale Jogja Equator #5 Indonesia bersama Asia Tenggara ini. Secara umum, karya-karya yang hadir dalam pameran ini memiliki kecenderungan yang sangat beragam, baik dari sisi bentuk maupun gagasan. Ini tidak lepas dari latar belakang seniman/kelompok seni terpilih yang juga bermacam-macam.

Tactic Portrait prabiennale 2019
Tactic Portrait prabiennale 2019

Karya-karya yang ada dalam pameran ini menyoal isu-isu terkait sejarah, arsip, mitos, seni dan kebudayaan tradisional, lingkungan, medium karya, dan persoalan hidup kekinian. Salah satu karya, misalnya, berupa performans yang berangkat dari cerita panji.

Karya lainnya mengangkat tentang pulung gantung, kepercayaan masyarakat lokal di Gunung Kidul. Ada pula karya yang menyinggung soal kesenian ludruk yang berangkat dari observasi di Parangkusumo. Kisah tentang sebuah studio foto di Jember juga hadir dalam salah satu karya di pameran ini. Dua karya lain yang juga menggunakan pendekatan arsip masing-masing berangkat dari naskah Jawa kuno dan kitab kuning.

Karya-karya yang menyoal isu lingkungan antara lain berangkat dari riset artistik tentang Sungai Brantas dan tentang siklus daur ulang sampah. Ada pula karya yang coba merepresentasikan kaitan antara kondisi alam dan laku mengambil pasir untuk industri.

Narasi sejarah hadir, misalnya, dalam karya yang berangkat dari persoalan 1965. Sedangkan persoalan-persoalan hidup kekinian hadir antara lain dalam karya-karya yang menyinggung soal pusat perbelanjaan dan waktu istirahat, game online, serta pariwisata.

Karya-karya yang lebih menyoal tentang medium misalnya bisa dilihat dalam lukisan yang menyinggung soal mooi indie atau lewat dua buah karya instalasi (masing-masing kayu lapis dan songket) yang secara medium terlanjur sering diasosiasikan dengan kerajinan.

‘Dari Batu, Air, dan Alam Pikir, untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia’ bisa diartikan sebagai ungkapan untuk merangkum narasi dan bentuk yang beragam dari pameran ini.

Karya-karya dalam pameran ini nantinya akan melalui proses penjurian lagi. 5 karya terpilih selanjutnya akan dikembangkan dan diikutkan dalam pameran utama Biennale Jogja Equator #5 di bulan Oktober mendatang.

Advertisements

Namun, di luar soal terpilih atau tidak, karya-karya dalam pameran ini patut dihargai, baik oleh senimannya pun publik, sebagai awalan dari karya yang masih akan berkembang. Berproses selama kurang lebih dua bulan bersama 16 seniman/kelompok seni terpilih ini. Karya-karya dalam pameran ini adalah modal yang baik bagi mereka. Ada masih banyak potensi yang bisa ditemukan dan dikembangkan dari tiap-tiap karya.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata / 5. Jumlah

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?