Theme Park Hotel, Tetap Menggemaskan Sebagai Hotel Pertama Di Genting Highlands

Theme Park Hotel – Dalam perjalanan ke Genting Highlands, bangun jam 3 pagi untuk siap-siap dan berangkat ke Bandara Soetta mau tidak mau harus dilakoni.

Karena masih awam untuk urusan remeh-temeh di bandara, saya pun perlu waktu yang cukup lama mengurus ini itu sebelum bergabung dengan teman-teman lain yang sudah melewati pos imigrasi. Tapi akhirnya bisa lebih nyelo juga setelah bergabung dengan rombongan karena tinggal ngikut yang lain saja.

Perjalanan yang panjang belum usai, gaes, justru baru saja dimulai. Dilanjutkan dengan 2 jam yang melelahkan di pesawat, serta 2 jam (lagi) yang melenakan di bis. Ternyata tubuh bisa terasa begitu lelah.

Sesampainya di hotel pun kami harus melakukan inspeksi kamar untuk keperluan review FAM Trip Genting 2017, serta masih ada beberapa hal lain yang memaksa kami untuk terus berpeluh.

Kondisi ini membuat bayangan pembaringan yang menentramkan terus menguat.

Syukurlah, kamar yang sudah disiapkan untuk kami di Theme Park Hotel (waktu itu hotel ini masih bernama Hotel On The Park) terlampau nikmat untuk dihuni. Sebetulnya, secapek-capeknya kami pada hari itu, sepotong kasur saja sudah cukup mengobati badan yang rindu rebahan. Sehingga cukup syok aja ketika masuk kamar dan disajikan 2 bed di petak yang cuma dihuni seorang diri.

Tempat tidur dobel tidak akan membuat jam tidurmu jadi dobel. Ehehe.

Keterkejutan bertambah ketika mengetahui ada lebih banyak handuk yang disiapkan daripada kasur yang tersedia. Pakai 1 anduk aja tida perna abis, lha kok ini ada 4.

Sebuah fakta yang kemudian membuat sebuah pertanyaan muncul : Apakah volume air yang dihabiskan seorang Pandu ketika mandi setara dengan mandinya 4 orang konvensional? Yang serius aja, lek!

Hotel untuk Keluarga

Telisik punya telisik, saya baru paham bahwa Theme Park Hotel ini memang di desain sebagai Hotel Keluarga, dimana kamar yang ditempati ini adalah tipe kamar Quads Room yang memang dibuat untuk menampung 4 orang. Sedangkan ada tipe kamar lain yaitu Sixers Room yang bisa menampung 6 anggota keluarga.

Benar-benar pas untuk kebutuhan keluarga bahagia yang ingin bervakansi. Jadi, buat yang masih hidup secara independen dan ingin mencari Single Room, maaf sayang, hotel ini bukan tempat yang tepat untuk anda.

Dibangun pada tahun 70-an, hotel yang tadinya bernama Highlands Hotel ini merupakan hotel paling tua yang ada di kawasan Resorts World Genting. Meski sudah hampir setengah abad menjalani pahit getirnya hidup sebagai tempat datand dan perginya manusia di kawasan Genting Highlands, hotel ini masih terlihat cantik dan menggemaskan bukan?

Menggemaskan, kan…….. XD

FYI, pergantian nama dari Hotel On The Park ke Theme Park Hotel baru terjadi per 1 November 2017 dan didasari oleh “Twentieth Century Fox World” Theme Park Malaysia yang sedang dalam proses pembangunan tepat 6 langkah di depan hotel asique ini.

Untuk urusan lambung, kebutuhan kami selama di hotel ini dipenuhi oleh makanan serta minuman yang telah disiapkan oleh Eatopia Food & Beverage yang kami cintai. Bagaimana tidak? Ini adalah satu-satunya sumber gizi yang ada di Theme Park Hotel, sehingga jika tidak menyayangi kantin ini dengan sepenuh hati, ke warung mana lagi perut kami harus berlabuh?

Cinta (yang agak maksa) ini dibalas oleh Eatopia dengan 2x paket nasi lemak yang disajikan bersama sepotong roti biasa dan sekaleng minuman, serta 1x paket ambil-apa-aja-nanti-dibayar-panitia yang membuat kami akhirnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk icip-icip berbagai jenis roti yang harga sepotongnya saja bisa buat makan berat 3x sehari.

Biarpun tidak ada model sarapan all you can eat di Theme Park Hotel, tapi Eatopia dengan model sarapan Grab & Go yang diusungnya mampu menjadi solusi untuk (keluarga) kamu yang hendak menikmati suasana pagi di sekitar Genting Highlands tanpa perlu mendengar rintihan perut yang seringkali terdengar memilukan di jam-jam sarapan.

Di Eatopia, cukup pilih, ambil, (bayar) dan kemudian anda bisa menikmati sarapan sambil halan-halan.

Berbeda dengan kebanyakan warteg di Indonesia menggunakan plastik kresek sebagai bungkusnya, di Eatopia, kamu akan menjumpai kertas coklat ramah lingkungan yang membungkus makanan dengan rapih. Hitung-hitung mengurangi beban bumi yang sudah cukup kronis dalam mengurai sampah plastik kan yhaa.

Nasi lemak juaraaak!

Unboxing kamar, gaes!

Hotel dengan 448 kamar ini hanya memiliki 8 lantai dan kamar yang kutempati berada di lantai 7, selangkah lagi menuju puncak. Meskipun tidak ada bar, heli pad, ataupun mercusuar di rooftop hotel ini, kita akan tetap disuguhkan pemandangan yang menarik dari jendela kamar dari lantai berapapun kok. 

Ya, setiap kamar di Theme Park Hotel ini memiliki view yang menarik dari dua sisi : sisi depan dan belakang hotel.

Pemandangan Gondola Yang menari-nari di Theme park hotel
Gondola tiada henti

Nah kebetulan sekali kamaruku mendapat pemandangan dari sisi belakang hotel dengan pemandangan yang sangat indah dimana dari sini bisa terlihat gedung-gedung kokoh, gondola yang menari-nari serta kelap-kelipnya lampu-lampu kota di Kuala Lumpur yang menyapa tiap malam.

Semakin malam semakin menyala~

Saking jarangnya nginep di hotel, sebenarnya saya sih nda terlalu pandai soal mana saja yang boleh dibawa pulang dan mana yang tidak, serta mana yang bebas biaya mana yang enggak. Untung segoblok-gobloknya soal beginian, tidak pernah kok muncul pikiran jahad untuk membawa pulang TV LED 24 inch yang ada di kamar nomor 7427 ini.

Btw, baru ingat kalau selama di sana blas tidak kunyalakan TV-nya. Biarpun konon channelnya beraneka rupa, ternyata wifi hotel tetap lebih legit. Setidaknya kita bisa nyetel video klip NDX dengan buffer yang minim. Yaa, definisi ‘kenceng’nya tiap orang kan beda-beda ya Mz, Mb.

Interiornya lucu, kaya kamu ~

So, sebenarnya saya tahu ada termos dan beberapa minuman sasyet di atas meja, serta ada kulkas mini juga di bawahnya, tapi giliran mau makai malah takut. Bahkan paket-paket penunjang kebersihan yang ada di kamar mandi juga sama sekali tidak kusenggol. Takutnya, niat gratisan malah disuruh tombok. Dihantui extra charge. Huft. #TeamPencariGratisan

Kemudian Bang Jay bilang kalau kami bisa memanfaatkan apapun yang ada di dalam kamar, free-of-charge. Kabar gembira ini tidak lantas membuat saya langsung membungkus bantal atau sprei. Nafsu kemaruk yang bergejolak masih mampu sedikit diredam dengan ‘hanya’ menghabiskan jatah botol air mineral dari dalam kulkas. Selebihnya, seperti termos ataupun alat mandi masih saja tidak tersentuh.

Ketika eksplor kamar mandi, pemisahan antara kloset, wastafel dan juga shower cukup membuat tercengang.

Ini adalah dobrakan efisiensi dalam aktivitas per-WC-an, dimana seorang bisa membilas badan di ruang showernya, seorang yang lain bisa bergulat dengan jamban di ruang kloset, serta satu lagi bisa sulam kumis di wastafelnya, itupun kalau tamunya bertiga. 

Bingung mau foto gimana di kamar mandi, bhang

Tadinya sih takut klosetnya cuma pakai tisyu, tanpa semprotan dan lantainya tidak bisa basah. Jadilah saya buka pintu kaca yang menutup ruang kloset tersebut sambil harap-harap resah.

Daaan,

Kekhawatiranpun sirna begitu tahu klosetnya masih pakai air. Selain itu, meskipun menggunakan klosetnya pakai kloset duduk, tapi tetap jongkok-able kok. Sangat mengakomodasi perilaku kamar mandi sebagian besar rakyat kita.

Pada titik ini, SAYA merasa Indonesia dan Malaysia bukan hanya sekadar tetangga, tetapi saudara dekat.

Pencarian sandal hotel

Sebetulnya, sejak awal salah satu hal yang paling kucari di kamar ini adalah sandal hotel. Selama beberapa kali menginap di hotel, saya belum pernah kesampaian buat membawa pulang sandal eksotis yang (biasanya) di sediakan di dalam kamar.

Meskipun memang tidak tau persis barang apa saja yang boleh di bawa pulang, tapi saya paham kalau sandal adalah salah satu yang sangat dibolehkan. Sehingga, ketika mendapat kesempatan menghuni Theme Park Hotel ini, sepasang sandal adalah salah satu benda yang paling berharga untuk ditemukan

Ternyata yang dicari tidak kunjung menampakkan batang hidungnya sampai detik-detik menjelang checkout. Rasanya tidak mungkin juga hotel bintang 3 yang per-malam dibandrol 1 jutaan rupiah ini tidak menyediakan sepasang benda yang ngga bisa didapatkan di toko kelonton Pak Soleh depan rumah.

Awalnya pasrah. Hingga ketika dalam perjalanan checkout melewati Hotel Housekeeper yang membawa gerobak untuk bersih-bersih kamar, dimana mereka membawa sekarung sandal hotel tanpa pemilik di dalamnya.

Seketika teringat bahwa lemari yang ada di bawah kasur belum dijelajahi secara paripurna.

Aku yakin sandal itu nangkring di sana!

Meskipun masih ada waktu untuk kembali ke kamar dan mencari sandal tipis tersebut, tapi rasa malu ternyata masih cukup kuat untuk menghalangiku melakukannya. Dalam urusan sandal hotel, ternyata aku merasa tidak setangguh yang dibayangkan ketika memperjuangkannya.