Niat Sholat Witir Setelah Tarawih, Bacaan Lengkap dan Tata Caranya

Oleh: Newsroom
Dipublikasikan
Bagikan:

Piknikdong.com, Tips – Begitu Ramadan tiba, suasana malam berubah. Selepas Isya, masjid-masjid mulai ramai.

Advertisements

Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang berjalan sendiri sambil membawa sajadah. Inilah momen tarawih salat sunnah yang menjadi identitas bulan suci.

Niat Sholat Witir Setelah Tarawih: Bacaan Lengkap dan Tata Caranya
Niat Sholat Witir Setelah Tarawih, photo: Freepik

Tarawih adalah bagian dari qiyam Ramadan, yaitu menghidupkan malam dengan ibadah, doa, dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Meski sering identik dengan saf panjang di masjid, tarawih tetap sah dikerjakan sendiri di rumah. Bagi keluarga yang membawa anak kecil atau ingin suasana lebih tenang, pilihan ini sering terasa lebih nyaman.

Advertisements

Keutamaannya pun tidak main-main. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa siapa yang menunaikan qiyam Ramadan dengan iman dan penuh harap pahala, dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni.

Karena itu, banyak orang menjadikan tarawih sebagai “ritual wajib” setiap malam Ramadan bukan sekadar rutinitas, tapi juga harapan.

Batas Waktu Tarawih: Jangan Sampai Terlewat Subuh

Tarawih dimulai setelah salat Isya dan berakhir sebelum masuk waktu Subuh. Rentangnya panjang. Ada yang memilih langsung setelah Isya berjamaah, ada juga yang menundanya hingga mendekati sahur.

Yang perlu diperhatikan, begitu azan Subuh berkumandang, waktu tarawih otomatis selesai.

Jadi, kalau berencana mengerjakannya di akhir malam misalnya setelah tahajud pastikan waktu masih cukup sebelum fajar.

Secara praktik, tarawih termasuk dalam kategori qiyamul lail (salat malam), hanya saja ia khusus dilakukan di bulan Ramadan.

Di sinilah letak perbedaannya dengan tahajud yang bisa dikerjakan sepanjang tahun.

Soal Jumlah Rakaat, Kenapa Bisa Berbeda?

Pertanyaan tentang jumlah rakaat tarawih sudah lama menjadi bahan diskusi para ulama.

Tidak ada hadis yang secara eksplisit menyebut angka pasti yang dilakukan Rasulullah SAW untuk tarawih.

Hadis dari Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melampaui 11 rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Dari riwayat inilah muncul beberapa pandangan berbeda.

Dua Puluh Rakaat: Pendapat Mayoritas

Mayoritas ulama dari empat mazhab besar Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menetapkan 20 rakaat (di luar witir). Pendapat ini merujuk pada praktik yang dijalankan Umar bin Khattab RA dan para sahabat setelahnya.

Dalam praktiknya, 20 rakaat dikerjakan dengan 10 kali salam (dua rakaat per salam).

Delapan Rakaat: Merujuk Hadis Aisyah

Sebagian ulama memilih 8 rakaat tarawih dengan tambahan 3 rakaat witir, sehingga totalnya 11 rakaat.

Dasarnya adalah hadis Aisyah RA yang menyebut Rasulullah tidak pernah lebih dari 11 rakaat.

Tiga Puluh Enam Rakaat: Praktik Ulama Madinah

Dalam mazhab Maliki, ada pula riwayat praktik 36 rakaat berdasarkan tradisi sebagian ulama salaf di Madinah.

Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan. Justru menjadi ruang kelonggaran. Mau 8, 20, atau lebih, yang utama tetap kekhusyukan dan keikhlasan.

Bacaan Niat Tarawih (Jangan Sampai Terlewat)

Niat adalah rukun pertama salat. Berikut bacaan niat tarawih dua rakaat sesuai posisi masing-masing:

Niat sebagai Makmum

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Niat sebagai Imam

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Ushollii sunnatat-taraawiihi rok’ataini mustaqbilal qiblati adā’an imaaman lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Sendiri (Munfarid)

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

Usholli sunnatattarowihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala

Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Rangkaian Gerakan Tarawih yang Perlu Diketahui

Secara teknis, tarawih sama seperti salat sunnah lainnya. Dikerjakan dua rakaat lalu salam, kemudian diulang hingga jumlah yang diinginkan.

Urutannya:

  • Membaca niat sesuai posisi.
  • Takbiratul ihram.
  • Doa iftitah.
  • Surah Al-Fatihah.
  • Membaca surah pendek (agar tidak memberatkan jamaah).
  • Rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud—semuanya dengan tumaninah.
  • Tasyahud akhir dan salam.

Setelah seluruh rakaat selesai, biasanya dilanjutkan dengan witir sebagai penutup.

Witir, Penutup yang Selalu Ganjil

Witir berarti ganjil. Di bulan Ramadan, umumnya dikerjakan 3 rakaat. Bisa dengan dua rakaat salam lalu satu rakaat terakhir, atau tiga rakaat sekaligus sesuai kebiasaan setempat.

Niat Sholat Witir 3 Rakaat

اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Ushallii sunnatal witri tsalaasa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’alaa

Artinya: “Aku berniat sholat witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”

(Tersedia juga niat untuk 1 rakaat maupun 2 rakaat sebelum penutup, sesuai kebutuhan.)

Dalam witir tiga rakaat dengan dua salam, surah yang dianjurkan:

  • Rakaat pertama: Al-A’la
  • Rakaat kedua: Al-Kafirun
  • Rakaat ketiga: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

Pada rakaat terakhir, dianjurkan membaca doa qunut.

Bacaan Doa Setelah Witir: Penutup yang Penuh Harap

Setelah salam, ada doa yang biasa dibaca sebagai rangkuman permohonan kepada Allah. Doa ini mencakup permintaan iman yang kuat, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, hingga kesehatan dan kecukupan hidup.

Bacaan Doa Setelah Witir:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3x)

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ.

اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Latin:

Subhaanal malikil qudduus (3x)

Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan daaimaan, wa nas’aluka qalban khaasyi’an, wa nas’aluka ‘ilman naafi’an, wa nas’aluka yaqiinan shaadiqan, wa nas’aluka ‘amalan shaaliihan, wa nas’aluka diinan qayyiman, wa nas’aluka khairan katsiiran, wa nas’alukal ‘afwa wal’aafiyata, wa nas’aluka tamaamal ‘aafiyati, wa nas’alukasy-syukra ‘alal ‘aafiyati, wa nas’alukal ghinaa’a ‘aninnaasi.

Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa wa shiyaamanaa wa qiyaamanaa wa takhusysyu’anaa wa tadharru’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa allaahu yaa allaahu yaa allaahu yaa arhamar raahimiin.

Wa shallallaaahu ‘alaa khairi khalqihi muhammadin wa’alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya:

“Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keimanan yang kokoh, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang tulus, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang melimpah, ampunan dan keselamatan, kesehatan yang sempurna, rasa syukur atas kesehatan tersebut, dan kecukupan dari bergantung kepada sesama manusia.

Wahai Allah, Tuhan kami, terimalah sholat, puasa, ibadah malam, kekhusyukan, kerendahan hati, dan pengabdian kami. Sempurnakan segala kekurangan kami, wahai Allah, wahai Allah, wahai Allah, wahai Dzat yang paling Maha Penyayang di antara para penyayang.

Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.”

Bukan Soal Banyaknya, Tapi Maknanya

Di tengah kesibukan Ramadan pekerjaan, sekolah anak, persiapan sahur tarawih menjadi jeda yang menenangkan.

Entah delapan rakaat atau dua puluh, di masjid atau di ruang keluarga, yang paling penting adalah niat dan kesungguhan.

Karena pada akhirnya, tarawih bukan sekadar hitungan rakaat. Ia adalah cara sederhana untuk membuat malam Ramadan terasa lebih hidup dan lebih dekat.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata 5 / 5. Jumlah suara: 1

Jadilah orang pertama yang memberi peringkat pada postingan ini.

Kami mohon maaf jika postingan ini tidak bermanfaat bagi Anda!

Mari kita perbaiki postingan ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan postingan ini?

Penulis:
Editor: Newsroom