Piknikdong.com, News – Kalau dulu Stasiun Gambir identik dengan tempat naik-turun kereta jarak jauh, sekarang arahnya mulai berubah.
Pengelolaannya tidak lagi sekadar fokus pada operasional perjalanan, tapi juga bagaimana setiap sudutnya bisa terasa lebih “hidup” dan memberi nilai tambah.

Berada di pusat Jakarta, aset stasiun ini diolah agar lebih produktif mulai dari meningkatkan layanan penumpang, membuka peluang bagi tenant, hingga menciptakan perputaran ekonomi yang berdampak luas.
Dampaknya bukan cuma terasa bagi penumpang, tapi juga bagi pelaku usaha dan tenaga kerja yang terlibat di dalamnya.
Lokasi Strategis, Modal Besar untuk Berkembang
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyoroti posisi Gambir yang memang sulit ditandingi.
Letaknya yang dekat dengan Monas, kawasan pemerintahan, perkantoran, hotel, hingga ruang publik membuat stasiun ini punya peran penting sebagai gerbang kota.
“Gambir adalah pintu perjalanan Kereta Api Jarak Jauh sekaligus teras kedatangan pusat Jakarta.
Karena itu, pengembangannya kami arahkan sebagai ruang hospitality dan leisure agar pelanggan dapat menunggu perjalanan dengan nyaman, makan, berbelanja, mengakses layanan perjalanan, serta melanjutkan aktivitas ke pusat kota,”
ujar Anne.
Dengan kata lain, Gambir ingin tampil sebagai tempat singgah yang nyaman, bukan sekadar titik berangkat.
Ekosistem Tenant yang Makin Lengkap
Saat ini, Gambir sudah memiliki 132 titik komersial yang tersebar di berbagai area.
Rinciannya terdiri dari 67 space (ruang usaha) dan 65 open space (area terbuka untuk berbagai kebutuhan komersial dan layanan).
Pilihan tenant pun cukup beragam mulai dari kuliner, kedai kopi, minimarket, toko buku, hingga layanan seperti lounge, loker, hotel transit, dan vending machine.
Ada juga fasilitas pendukung perjalanan seperti ATM, parkir, hingga media luar ruang.
Kehadiran berbagai tenant ini membentuk ekosistem yang terasa aktif dan relevan dengan kebutuhan penumpang masa kini.
Jadi, waktu menunggu kereta pun bisa dimanfaatkan dengan lebih menyenangkan.
Arus Penumpang Terus Tumbuh
Data pergerakan penumpang menunjukkan bahwa Gambir masih menjadi salah satu stasiun tersibuk. Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 5,7 juta orang, lalu naik menjadi 6,5 juta di 2023.
Meski sempat turun di 2024, angka kembali naik pada 2025 menjadi lebih dari 6,1 juta pelanggan.
Rata-rata harian di tahun tersebut bahkan menyentuh sekitar 16.700 orang.
Sementara itu, di Semester I 2026 saja, Gambir sudah melayani lebih dari 3,2 juta pelanggan—dengan jumlah keberangkatan dan kedatangan yang hampir seimbang.
Angka-angka ini jadi sinyal kuat bahwa kebutuhan akan fasilitas pendukung yang nyaman dan lengkap semakin penting.
Lebih Nyaman, Lebih Ramah untuk Semua
Dengan volume penumpang sebesar itu, kebutuhan akan fasilitas pendukung jelas tidak bisa dianggap sepele.
Mulai dari ruang tunggu yang nyaman, pilihan makanan dan minuman, hingga akses transportasi lanjutan semuanya harus terintegrasi dengan baik.
Tak kalah penting, Gambir juga diarahkan menjadi ruang yang ramah untuk keluarga. Jadi bukan hanya praktis, tapi juga nyaman untuk semua kalangan.
“Optimalisasi Gambir kami arahkan agar aset stasiun bekerja lebih produktif.
Pelanggan mendapat pengalaman yang lebih nyaman, mitra usaha mendapat ruang tumbuh, tenaga kerja terserap, dan kawasan sekitar Monas semakin hidup dengan aktivitas yang tertata,”
kata Anne.
Dampak Nyata untuk Lapangan Kerja
Di balik ramainya aktivitas tenant, ada dampak ekonomi yang cukup signifikan. Satu outlet kecil saja bisa menyerap 2–3 tenaga kerja untuk operasional harian.
Dengan 67 space aktif, diperkirakan sudah ada sekitar 134–201 tenaga kerja langsung yang terserap.
Itu belum termasuk peran penting dari tenaga kebersihan, keamanan, teknisi, hingga logistik dan pemasok.
Artinya, Gambir bukan hanya tempat lalu-lalang penumpang, tapi juga sumber penghidupan bagi banyak orang.
Menuju “New Gambir” yang Lebih Modern
Ke depan, konsep pengembangan Gambir akan mengarah ke “Modern Station & Lifestyle Hub”.
Ini bukan sekadar jargon, tapi konsep yang menggabungkan fungsi stasiun dengan gaya hidup urban.
Rencana pengembangannya mencakup area ritel, kuliner, lounge, hotel, rooftop park, ruang publik, hingga ruang pertemuan.
Dalam kajian tersebut, istilah NLA (Net Leasable Area) digunakan untuk menggambarkan luas area yang bisa disewakan ke tenant.
Total area komersial untuk ritel diproyeksikan mencapai sekitar 15.479 m², sementara hotel dan ruang pertemuan sekitar 3.756 m².
Potensi UMKM dan Dunia Usaha
Jika terealisasi, area ritel baru ini bisa menampung sekitar 220–310 unit usaha kecil dan menengah. Dengan ukuran tenant sekitar 50–70 m², peluang bagi pelaku usaha terbuka cukup lebar.
Jika setiap unit mempekerjakan 2–3 orang, maka potensi tenaga kerja langsung bisa mencapai 440–930 orang. Angka ini tentu akan berkembang seiring dengan operasional penuh kawasan.
Selain itu, fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) juga membuka peluang baru untuk kegiatan bisnis, komunitas, hingga event skala besar.
Peluang Kerja yang Lebih Luas
Tak hanya tenant, sektor pendukung juga ikut berkembang. Mulai dari pengelolaan kebersihan, keamanan, teknisi gedung, hingga customer service dan pengelola taman.
Jika digabungkan, total peluang kerja dari pengembangan Gambir diperkirakan bisa mencapai 500–1.000 orang, tergantung pada desain akhir dan operasional kawasan.
Bukan Sekadar Stasiun, Tapi Pengalaman Kota
Pengembangan ini juga menjadi bagian dari strategi Non-Fare Box (NFB), yaitu sumber pendapatan di luar tiket kereta.
Dengan konsep komersial yang matang, stasiun bisa tetap memberikan layanan optimal sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
“KAI ingin Gambir menjadi ruang perjalanan sekaligus ruang pengalaman kota.
Dengan pengembangan berbasis hospitality, leisure, dan Non-Fare Box, Gambir disiapkan menjadi wajah layanan KAI di pusat Jakarta yang nyaman bagi pelanggan, produktif bagi perusahaan, dan bermanfaat bagi masyarakat,”
tutup Anne.
Ke depan, Gambir bukan cuma tempat datang dan pergi tapi juga tempat singgah yang punya cerita.
















