Layung Senja di Borobudur: Saat Musik, Alam, dan Meditasi Menyatu di Bawah Langit Senja

Oleh: Newsroom
Dipublikasikan
Bagikan:

Piknikdong.com, Event – Magelang punya cara baru menyambut matahari terbenam. Bukan sekadar panorama jingga yang memeluk siluet candi, tapi juga alunan nada yang mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keseharian.

Advertisements

Lewat inisiatif bertajuk Layung Senja, InJourney Destination Management (IDM) menghadirkan pertunjukan musik dengan pendekatan berbeda di kawasan Candi Borobudur, Sabtu, 14 Februari 2026.

Layung Senja di Borobudur: Saat Musik, Alam, dan Meditasi Menyatu di Bawah Langit Senja
Layung Senja di Borobudur

Ini bukan konser biasa. Layung Senja dirancang sebagai ruang eksploratif yang menggabungkan kurasi musisi lokal dan nasional dengan repertoar yang terasa naratif, syahdu, dan reflektif.

Bagi traveler yang datang ke Borobudur untuk mencari makna, bukan hanya foto, pengalaman ini terasa seperti jawaban.

Musik yang Tidak Sekadar Didengar, Tapi Dirasakan

Advertisements

Pada edisi perdananya, Layung Senja mempertemukan duo elektronik eksperimental asal Bandung, Bottlesmoker, dengan praktisi sound healing, Wiwit Sebrina.

Kolaborasi ini menghadirkan lanskap audio-visual yang unik: denting digital synthesizer berpadu dengan vibrasi alami yang menenangkan.

Hasilnya adalah pengalaman wellness yang imersif sebuah perpaduan antara teknologi, alam, dan kesadaran diri.

Direktur Komersial IDM, Gistang Panutur, menjelaskan bahwa Layung Senja lahir dari kebutuhan wisatawan masa kini yang tak lagi puas dengan destinasi sebatas tempat singgah.

“Layung Senja lahir dari komitmen kami untuk menghadirkan pengalaman menikmati musik yang intim dan menenangkan.

Di sini, musik tidak sekadar pertunjukan, tetapi juga sebagai media meditasi diri. Hal ini sejalan dengan identitas Borobudur yang lekat dengan spiritual dan mindfulness (wellness tourism),”

ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Saat Tanaman Ikut “Bernyanyi” Lewat Teknologi

Bottlesmoker yang digawangi Ryan Adzani (Nobi) dan Anggung Suherman (Angkuy) dikenal dengan pendekatan unik bernama bio plant sonic frequencies.

Sejak berdiri pada 2005, mereka tak hanya memainkan instrumen, tapi juga “mendengarkan” kehidupan biologis tanaman.

Gerakan mikroskopis tanaman direkam, lalu diterjemahkan menjadi data musikal melalui perangkat audio khusus. Variabel biologis tersebut kemudian dikonversi menjadi elemen teknis seperti nada, tangga nada (mayor/minor), tempo, pitch, hingga velocity atau tekanan suara.

Dari proses itu, tercipta komposisi yang memadukan synthesizer dengan suara alam: desir angin, kicau burung, hingga gemericik air.

Frekuensi yang dihasilkan berada di rentang 200–1000 hertz rentang yang menurut sejumlah penelitian mampu merangsang gelombang otak menuju kondisi relaksasi mendalam.

“Konsep bio plant sonic frequencies adalah tentang mendengarkan suara makhluk hidup yang seringkali terabaikan.

Ketika frekuensi bunyi tanaman ini diperdengarkan di lingkungan Borobudur yang hening dan magis, resonansinya menjadi jauh lebih kuat.

Kami merasa ini adalah panggung yang paling tepat untuk eksperimen bio sonik ini, di mana teknologi bisa menjadi jembatan bagi manusia untuk kembali terhubung dengan alam dan dirinya sendiri,”

ungkap Anggung Suherman atau Angkuy dari Bottlesmoker.

Terapi Suara di Bawah Langit Senja

Lapisan elektronik organik dari Bottlesmoker kemudian diperkaya oleh sesi sound healing yang dipandu Wiwit Sebrina.

Menggunakan crystal singing bowls, ia mengajak audiens masuk ke ruang batin yang lebih dalam.

Sesi ini difokuskan pada pelepasan stres dan ketegangan emosional. Getaran frekuensi tinggi dari crystal bowls dipercaya membantu menyelaraskan energi tubuh, mendukung regenerasi sel, serta membawa gelombang otak menuju kondisi meditatif yang lebih dalam.

“Vibrasi frekuensi tinggi yang dihasilkan oleh crystal bowls dipercaya mampu menyelaraskan kembali energi tubuh dan membawa gelombang otak peserta menuju kondisi meditatif yang dalam,”

jelas Wiwit Sebrina.

Di tengah kemegahan Borobudur saat matahari perlahan tenggelam, kombinasi ambient electronic, field recordings, dan resonansi akustik healing bowls menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata tenang, reflektif, dan terasa personal.

Borobudur, Musik, dan Ruang untuk Pulang ke Diri Sendiri

Layung Senja seakan memperluas makna berkunjung ke Borobudur.

Tak hanya menyaksikan warisan budaya, tapi juga merasakan perjalanan batin.

“Kolaborasi ini menciptakan sebuah ekosistem bunyi di mana musik tidak hanya hadir sebagai hiburan audio, tetapi sebagai katalisator untuk regenerasi sel dan penyembuhan batin,”

pungkasnya.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata 5 / 5. Jumlah suara: 2

Jadilah orang pertama yang memberi peringkat pada postingan ini.

Kami mohon maaf jika postingan ini tidak bermanfaat bagi Anda!

Mari kita perbaiki postingan ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan postingan ini?

Penulis:
Editor: Newsroom