Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026 Lengkap Niat dan Tata Caranya, Bisa Digabung Puasa Syawal?

Oleh: Andri and Newsroom
Dipublikasikan
Bagikan:

Piknikdong.com, Tips – Setelah sebulan penuh menjalani Ramadan, suasana Bulan Syawal sering jadi momen “pemanasan lanjutan” buat menjaga ritme ibadah.

Advertisements

Bukan cuma soal silaturahmi dan liburan, banyak juga yang mulai berburu amalan sunnah salah satunya puasa.

Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026 Lengkap Niat dan Tata Caranya, Bisa Digabung Puasa Syawal?
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh April 2026 Lengkap Niat dan Tata Caranya

Di antara yang paling sering dibahas adalah puasa enam hari di bulan Syawal dan puasa tiga hari di pertengahan bulan, atau yang dikenal sebagai Puasa Ayyamul Bidh.

Nah, muncul satu pertanyaan klasik: bisa nggak sih dua puasa ini digabung dalam satu niat?

Advertisements

Yuk, kita bahas dengan cara yang lebih santai tapi tetap akurat.

Dua Puasa Sunnah yang Sering “Ketemu Jadwal”

Puasa Ayyamul Bidh punya ciri khas: dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 kalender Hijriah, saat bulan lagi terang-terangnya.

Dalam banyak riwayat, amalan ini punya nilai pahala yang besar bahkan disebut setara dengan puasa sepanjang tahun jika dilakukan rutin tiap bulan.

Sementara itu, puasa Syawal adalah paket enam hari yang dianjurkan setelah Idulfitri. Banyak orang sengaja menyicilnya di awal bulan supaya cepat “lunas”.

Menariknya, di bulan Syawal, kedua puasa ini sering beririsan waktunya.

Jadwal Ayyamul Bidh Syawal 2026, Bisa Beda Tipis

Soal tanggal, memang ada sedikit perbedaan tergantung acuan kalender yang dipakai di Indonesia.

Versi pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia memperkirakan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Artinya, Ayyamul Bidh berlangsung pada:

  • 2 April 2026 (13 Syawal)
  • 3 April 2026 (14 Syawal)
  • 4 April 2026 (15 Syawal)

Sementara itu, Muhammadiyah yang menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal menetapkan 1 Syawal lebih awal, yaitu 20 Maret 2026. Maka jadwalnya jadi:

  • 1 April 2026
  • 2 April 2026
  • 3 April 2026

Perbedaan ini wajar, jadi tinggal menyesuaikan dengan pedoman yang diikuti.

Digabung atau Dipisah? Ini Penjelasan Fikihnya

Kabar baiknya, dalam kajian fikih, menggabungkan dua puasa sunnah itu bukan hal yang dilarang.

Konsepnya dikenal sebagai tasyrik niat yakni menggabungkan dua ibadah yang sifatnya sama (dalam hal ini sama-sama puasa sunnah).

Artinya:

  • Boleh menggabungkan niat puasa Syawal dan Ayyamul Bidh
  • Tetap berpeluang mendapatkan dua pahala sekaligus
  • Tidak perlu menjalankan secara terpisah jika waktunya bertepatan

Namun, ada satu catatan penting: sebaiknya niat utama tetap diarahkan ke puasa Syawal. Alasannya sederhana—puasa Syawal hanya ada di bulan itu, sementara Ayyamul Bidh datang setiap bulan.

Niat Puasa: Fleksibel tapi Tetap Harus Jelas

Berbeda dengan puasa wajib, puasa sunnah punya fleksibilitas soal niat.

Selama belum makan atau minum sejak subuh, niat masih bisa dilakukan di pagi hari.

Berikut lafal yang biasa digunakan:

Puasa Ayyamul Bidh
Nawaitu sauma ayyamil bidh sunnatan lillahi ta’ala.

Puasa Syawal
Nawaitu sauma ghadin ‘an adai sunnatis Syawwali lillahi ta’ala.

Kalau mau digabung, cukup niat dalam hati menjalankan puasa Syawal sambil berharap pahala Ayyamul Bidh tidak harus melafalkan dua-duanya.

Praktiknya Nggak Ribet, Sama Seperti Puasa Biasa

Secara teknis, nggak ada perbedaan mencolok:

  • Sahur tetap dianjurkan (biar kuat sampai magrib)
  • Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa
  • Menjaga ucapan dan emosi (ini yang sering jadi tantangan)
  • Segera berbuka saat waktunya tiba

Justru kualitas puasa sering diukur dari hal-hal non-teknis seperti menjaga lisan dan sikap sehari-hari.

Sekali Jalan, Dua Target Ibadah Tercapai

Kalau dilihat dari sisi efisiensi ibadah, menggabungkan dua puasa ini bisa jadi strategi cerdas.

Dalam satu waktu, kamu bisa:

  • Menyelesaikan target puasa Syawal
  • Tetap menjaga rutinitas Ayyamul Bidh bulanan

Plus, pahala puasa Syawal sendiri sering dikaitkan dengan ganjaran seperti puasa setahun penuh jika digabung dengan Ramadan.

Menjaga “Ritme” Setelah Ramadan

Buat banyak orang, tantangan terbesar setelah Ramadan bukan lagi menahan lapar, tapi menjaga konsistensi ibadah.

Nah, puasa seperti ini bisa jadi “jembatan” supaya semangat Ramadan nggak langsung drop.

Selain bernilai pahala, ini juga jadi bentuk kecil dari usaha menjaga kedekatan spiritual sesuatu yang seringkali terasa justru setelah Ramadan selesai.

Jadi, kalau jadwalnya pas dan kondisi memungkinkan, kenapa nggak sekalian dijalankan bareng?

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata 0 / 5. Jumlah suara: 0

Jadilah orang pertama yang memberi peringkat pada postingan ini.

Kami mohon maaf jika postingan ini tidak bermanfaat bagi Anda!

Mari kita perbaiki postingan ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan postingan ini?

Penulis: and
Editor: Newsroom