Piknikdong.com, News – Perjalanan antar kota di Jawa Tengah hingga Jawa Timur kini terasa semakin simpel.
Salah satu moda yang diam-diam jadi andalan banyak orang adalah Kereta Api Bandara Adi Soemarmo atau KA BIAS.

Bukan cuma untuk ke bandara, kereta ini mulai jadi bagian dari rutinitas harian masyarakat.
Dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, jumlah penumpangnya tembus 208.583 orang. Angka ini naik cukup signifikan, sekitar 31,12% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ini jadi sinyal kalau KA BIAS makin dipercaya sebagai solusi mobilitas lintas wilayah.
Bukan Sekadar Kereta Bandara
KA BIAS punya peran yang sedikit berbeda dibanding layanan kereta bandara lainnya. Selain mengantar penumpang ke Bandara Adi Soemarmo, kereta ini juga aktif melayani kebutuhan perjalanan harian.
“KA BIAS selain menghubungkan masyarakat ke bandara, juga menjadi pilihan yang digunakan dalam berbagai aktivitas.
Dengan tarif yang terjangkau, layanan ini hadir sebagai bagian dari keseharian masyarakat di kawasan Solo hingga Madiun,” ujar Anne.
Dengan kata lain, kereta ini bukan cuma untuk traveler yang mau terbang, tapi juga untuk pekerja, pelajar, hingga masyarakat umum yang butuh transportasi praktis.
Solo Jadi Titik Sibuk, Akses Makin Mudah
Di wilayah operasional Daop 6 Yogyakarta, pergerakan penumpang terlihat cukup padat. Total lebih dari 110 ribu orang naik dan lebih dari 115 ribu turun selama periode awal tahun ini.
Stasiun Solo Balapan jadi pusat aktivitas paling ramai.
Dari sini, ribuan penumpang setiap harinya naik dan turun, memanfaatkan akses yang terhubung ke berbagai titik penting seperti Kadipiro, Solo Jebres, Palur, hingga langsung ke Bandara Adi Soemarmo.
Buat warga Solo dan sekitarnya, ini jelas mempermudah perjalanan tanpa harus ribet pindah-pindah transportasi.
Terhubung Sampai Madiun, Perjalanan Lebih Efisien
Perjalanan KA BIAS nggak berhenti di Solo. Jalurnya terus terkoneksi hingga wilayah Madiun dan sekitarnya.
Di Daop 7 Madiun, jumlah penumpang juga nggak kalah tinggi. Stasiun Madiun jadi titik paling sibuk dengan mobilitas puluhan ribu orang.
Rute ini menghubungkan berbagai daerah seperti Walikukun, Ngawi, Magetan (Stasiun Barat), hingga Caruban. Buat yang sering bepergian antar kota di kawasan ini, KA BIAS jelas jadi opsi yang praktis dan hemat waktu.
Aglomerasi Solo–Madiun Makin Terasa Nyambung
Kalau dulu perjalanan antar kota terasa terpisah, sekarang mulai terasa lebih terintegrasi. KA BIAS ikut membentuk konektivitas kawasan Solo–Madiun yang semakin solid.
Dengan jalur yang saling terhubung, masyarakat bisa berpindah dari satu kota ke kota lain tanpa harus berganti moda berkali-kali.
Akses ke bandara pun jadi lebih seamless, terutama buat yang tinggal di luar Solo.
Sejalan dengan Pertumbuhan Ekonomi
Menariknya, peningkatan penggunaan KA BIAS juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Data dari BPS menunjukkan ekonomi Jawa Tengah tumbuh sekitar 4,9% dan Jawa Timur 5,0% di awal 2026.
Aktivitas masyarakat yang makin tinggi otomatis mendorong kebutuhan transportasi yang efisien, tepat waktu, dan ramah di kantong.
Tarif Ramah, Jadwal Fleksibel
Salah satu alasan KA BIAS makin digemari tentu karena harganya. Tiketnya dibanderol mulai dari Rp7.000 hingga Rp40.000, masih sangat terjangkau untuk berbagai kalangan.
Jadwalnya juga cukup fleksibel. Kereta pertama berangkat dari Madiun pukul 05.40 WIB dan dari Solo pukul 06.00 WIB. Cocok buat yang punya agenda pagi, entah itu kerja, kuliah, atau kejar penerbangan.
Transportasi yang Jadi Bagian Hidup Sehari-hari
KA BIAS perlahan berubah dari sekadar transportasi tambahan menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat.
“KA BIAS hadir untuk menjaga keterhubungan antarwilayah dalam satu kawasan yang terus berkembang.
Setiap perjalanan membawa kemudahan akses, memperkuat aktivitas masyarakat, dan menjaga pergerakan ekonomi tetap berjalan,”
tutup Anne.
Buat kamu yang sering bolak-balik Solo–Madiun atau butuh akses mudah ke bandara, KA BIAS bisa jadi opsi yang layak dicoba.
Praktis, terjangkau, dan makin relevan dengan kebutuhan perjalanan masa kini.













