Piknikdong.com, News – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, suasana Kota Semarang mulai terasa berbeda.
Tak hanya ornamen merah dan lampion yang bermunculan, pemerintah pusat pun ikut memastikan semuanya benar-benar siap.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana turun langsung meninjau sejumlah destinasi unggulan di ibu kota Jawa Tengah tersebut.
Bagi Kementerian Pariwisata, Imlek bukan sekadar agenda tahunan. Ada pergerakan ekonomi, peningkatan kunjungan, hingga peluang promosi budaya yang menyertainya.
“Momentum Imlek bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan penggerak roda perekonomian masyarakat.
Kita ingin memastikan destinasi siap menyambut wisatawan dengan pelayanan yang aman, nyaman, dan berkualitas,”
kata Menpar Widiyanti di Semarang, Selasa (10/2/2026).
Didampingi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Menpar menyisir dua ikon kota: Kelenteng Sam Poo Kong dan Lawang Sewu.
Sam Poo Kong, Harmoni Budaya yang Terus Hidup
Langkah pertama tertuju ke Kelenteng Sam Poo Kong.
Tempat ini bukan sekadar lokasi ibadah, melainkan salah satu simbol perjumpaan budaya yang paling kuat di Semarang.
Setiap Imlek, ribuan orang memadati kawasan ini ada yang bersembahyang, ada pula yang datang menikmati atmosfer perayaan.
Secara historis, kawasan ini berkaitan erat dengan pelayaran Laksamana Cheng Ho. Dahulu berupa gua batu tempat persinggahan armada Cheng Ho saat berlabuh di Semarang, area tersebut kemudian berkembang menjadi pusat penghormatan terhadap sosok sang laksamana.
Cheng Ho yang dikenal sebagai pelaut Muslim juga membawa misi perdamaian dan perdagangan ke Nusantara.
Jejak sejarah itu kini menjelma menjadi ruang akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang tetap hidup hingga hari ini.
Menpar menilai Sam Poo Kong bukan hanya destinasi wisata sejarah, tetapi juga representasi Indonesia yang majemuk.
“Sam Poo Kong adalah simbol akulturasi budaya yang luar biasa. Perayaan Imlek tahun ini harus menjadi potret pariwisata Indonesia yang inklusif, tertata, dan membanggakan,”
katanya.
Untuk memeriahkan Imlek tahun ini, pihak pengelola sudah menyiapkan pesta budaya yang memadukan unsur Jawa, Tionghoa, dan budaya nasional.
Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 15 Februari 2026 dan terbuka gratis untuk masyarakat.
“Kami sudah mempersiapkan pesta budaya untuk warga Semarang dan wisatawan. Kami mengundang masyarakat untuk merayakan Imlek bersama di Sam Poo Kong,”
kata Mulyadi.
Bagi traveler keluarga, agenda ini bisa jadi momen tepat mengenalkan anak-anak pada sejarah dan keberagaman budaya dalam satu kunjungan.
Lawang Sewu: Wisata Sejarah dengan Sentuhan Digital
Dari Sam Poo Kong, rombongan bergeser ke Lawang Sewu—bangunan ikonik yang berdiri sejak 1904 pada masa kolonial Belanda.
Gedung yang kerap dijuluki “seribu pintu” ini menyimpan kisah panjang tentang perkeretaapian nasional dan perjuangan bangsa.
Menpar meninjau berbagai sudut bangunan, termasuk ruang immersive yang kini menjadi daya tarik baru.
Lewat proyeksi visual futuristik, pengunjung diajak menyelami sejarah Kereta Api Indonesia dengan cara yang lebih interaktif dan modern.
Atraksi ini sejalan dengan konsep Tourism 5.0 yang mendorong integrasi teknologi dalam pengalaman wisata.
“Lawang Sewu adalah ikon pariwisata yang sarat nilai sejarah. Melalui koridor immersive, pengunjung dapat mengenal sejarah Kereta Api Indonesia dan nilai perjuangan bangsa secara lebih hidup dan interaktif,”
ucap Menpar Widiyanti.
Antisipasi Lonjakan Pengunjung Saat Libur Imlek
Musim libur selalu identik dengan lonjakan wisatawan, termasuk saat Imlek. Pihak pengelola pun sudah menyiapkan berbagai langkah antisipatif.
Direktur Komersial KAI Wisata, Hetty Herawati, menyebutkan bahwa pada hari biasa Lawang Sewu dikunjungi sekitar 6.000 orang.
Saat momen besar seperti Imlek, jumlah tersebut bisa melonjak hingga 10.000 pengunjung.
“Kami menyiapkan berbagai langkah antisipatif agar pengunjung dapat menikmati suasana Lawang Sewu dengan nyaman dan aman,”
kata Hetty.
Tak hanya itu, beragam atraksi khas Imlek seperti pertunjukan barongsai dan pembagian angpau juga akan digelar untuk memperkaya pengalaman wisata.
Pemandu wisata turut disiagakan agar pengunjung tak sekadar datang untuk berfoto, tetapi benar-benar memahami nilai sejarah di balik bangunan bersejarah tersebut.
“Kami ingin setiap pengunjung tidak hanya datang berfoto, tetapi juga memahami nilai sejarah dan inspirasi yang terkandung di dalamnya.
Harapannya, mereka pulang membawa pengalaman yang bermakna dan membagikannya kepada lebih banyak orang,”
ucapnya.
Imlek Jadi Momentum Perkuat Citra Pariwisata
Kunjungan kerja ini menegaskan keseriusan Kementerian Pariwisata dalam menjaga standar destinasi, terutama saat momentum hari besar keagamaan.
Tujuannya bukan hanya memastikan kenyamanan wisatawan, tetapi juga mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan kolaborasi pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan pelaku wisata, Semarang diharapkan tampil sebagai kota yang ramah, inklusif, dan kaya cerita budaya.
Bagi pembaca piknikdong.com yang sedang merencanakan liburan Imlek, Semarang bisa jadi opsi menarik sejarah, budaya, hingga atraksi modernnya siap menyambut.













