Piknikdong.com, News – Ketertarikan masyarakat terhadap perjalanan kereta api sebagai bagian dari pengalaman wisata terus mengalami peningkatan.
Hal ini tercermin dari tingginya animo penumpang Kereta Panoramic selama periode Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Dalam kurun waktu tersebut, layanan unggulan PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini melayani sebanyak 11.819 pelanggan, dengan tingkat okupansi mencapai 120 persen dari total 9.576 kursi yang tersedia.
Angka tersebut menegaskan bahwa perjalanan kereta kini bukan lagi sekadar sarana menuju tujuan, melainkan bagian dari pengalaman liburan itu sendiri.
Selaras dengan Arah Pengembangan Pariwisata Nasional
Capaian Kereta Panoramic dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), penguatan destinasi daerah, serta peningkatan konektivitas antarkota dan wilayah.
Pendekatan ini juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam menggerakkan ekonomi kreatif dan memperluas manfaat pariwisata ke berbagai daerah.
Transformasi layanan kereta api pun semakin terasa, terutama ketika moda transportasi publik mulai dirancang untuk memberi nilai tambah bagi sektor pariwisata.
Kereta Bukan Sekadar Alat Transportasi
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut Kereta Panoramic sebagai simbol perubahan wajah layanan perkeretaapian di Indonesia.
“Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tetapi juga menikmati proses perjalanannya.
Ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pariwisata berkualitas dan pergerakan ekonomi daerah melalui konektivitas yang nyaman dan berkelanjutan,”
ujar Anne.
Menurutnya, pengalaman selama perjalanan kini menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan wisata, bukan semata-mata destinasi akhir.
Menghubungkan Kota Besar dan Destinasi Wisata Favorit
Saat ini, layanan Kereta Panoramic tersedia pada sejumlah rute strategis, seperti KA Argo Wilis dan KA Turangga (Bandung–Surabaya Gubeng PP), KA Pangandaran (Gambir–Banjar PP), KA Papandayan (Gambir–Garut PP), hingga KA Parahyangan (Gambir–Bandung PP).
Relasi-relasi tersebut menghubungkan pusat kota dengan berbagai daerah tujuan wisata, sekaligus mendukung pemerataan pembangunan dan penguatan destinasi di luar kawasan metropolitan.
Jalur Selatan Jawa Jadi Daya Tarik Utama
Anne menjelaskan, tingginya minat masyarakat juga dipengaruhi oleh jalur selatan Pulau Jawa yang dilalui sebagian besar Kereta Panoramic.
Jalur ini dikenal memiliki panorama alam yang beragam dan kaya nilai budaya.
“Sepanjang perjalanan, pelanggan dapat menikmati bentang perbukitan, hamparan persawahan, aliran sungai, jembatan-jembatan ikonik, terowongan bersejarah, hingga panorama alam terbuka melalui kaca lebar Kereta Panoramic. Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri,”
jelas Anne.
Pemandangan yang tersaji membuat waktu tempuh terasa lebih singkat, sekaligus menghadirkan sensasi wisata sejak awal perjalanan.
Efek Domino bagi Ekonomi Daerah
Tak hanya menawarkan pengalaman berbeda bagi penumpang, kehadiran Kereta Panoramic juga memberikan dampak langsung bagi perekonomian daerah yang dilalui.
Meningkatnya jumlah wisatawan turut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, UMKM, hingga industri kreatif lokal.
Kondisi ini sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi lokal, mendorong desa wisata, dan memperluas peran UMKM dalam rantai pariwisata nasional.
“Kami melihat Kereta Panoramic sebagai pengungkit baru bagi pariwisata daerah. Ketika akses semakin nyaman dan menarik, minat kunjungan meningkat, dan ekonomi lokal ikut bergerak. Inilah bentuk nyata sinergi antara transportasi publik dan agenda pembangunan nasional,”
tambah Anne.
Wisata Ramah Lingkungan Jadi Nilai Tambah
Dari sisi keberlanjutan, penggunaan kereta api sebagai moda wisata turut mendukung upaya pengurangan emisi dan pengembangan transportasi rendah karbon.
Hal ini semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perjalanan yang lebih ramah lingkungan.
“KAI terus melakukan evaluasi dan pengembangan layanan berbasis kebutuhan pelanggan.
Optimalisasi Kereta Panoramic pada relasi strategis merupakan bagian dari komitmen kami menghadirkan layanan yang relevan dengan tren pariwisata, mendukung mobilitas antardaerah, serta sejalan dengan agenda pemerintah dalam membangun pariwisata dan ekonomi yang berkelanjutan,”
tutup Anne.












