Terus Bergerak Mencari Jalan, ArtJog 2021 Lawan Krisis dengan Kesadaran Ruang dan Waktu!

Pandemi boleh saja meluluhlantakkan dunia. Menyerang sudut perekonomian. Menghancurkan sendi-sendi kesejahteraan.

Namun, layaknya besi, semakin ditempa, ditumbuk, bahkan dibakar, manusia muka bumi justru semakin tangguh serta kreatif di tengah gempuran musibah akbar ini. 

Krisis dunia yang dihadapi saat ini dianggap sebagai salah satu krisis terbesar jagat raya. Di saat yang bersamaan, krisis abad ini juga melahirkan berbagai karya agung yang justru berangkat dan berakar dari kesadaran akan diri sendiri dan lingkungan sekitar. 

Itulah yang sejatinya dirasakan ketika berada di pintu keluar ArtJog MMXX tahun 2021 yang diselenggarakan pada tanggal 8 Juli hingga 31 Agustus 2021 di Jogja National Museum (JNM) ini. Kami sangat beruntung menjadi bagian dari gelaran ArtJog kali ini. 

Oke, mungkin paragraf tersebut harusnya diletakkan di akhir tulisan ini. Tapi entahlah, rasanya kami ingin menempatkan apresiasi setinggi-tingginya kepada siapapun yang berani bergerak dan terlibat dalam gelaran ArtJog kali ini.

Tidak hanya berani melawan risiko dari adanya pandemi sehingga harus menerapkan protokol kesehatan yang begitu ketat, tim ArtJog juga telah berhasil menggelar pameran kesenian dengan tema Arts in Common – Time (to) Wonder dengan sangat nyaman dan aman. 

Sebagai seorang pewarta, kami juga justru merasa begitu beruntung karena dapat menikmati berbagai karya ArtJog 2021 ini dengan lebih khidmat dan khusyuk sambil mengenal lebih dekat berbagai karya dari perupa-perupa yang berpartisipasi. 

Perjalanan berkenalan dengan sejumlah perupa ArtJog 2021 ini pun dimulai dari gerbang depan JNM.

ArtJog 2021, photo by : Andri/piknikdong
Karya Marga Pangestu di ArtJog MMXXI, photo by : Andri/piknikdong

Begitu memasuki area pameran, sebuah karya berupa atap rumah dengan sebuah pintu di sampingnya menyambut kami.

Lorong kaca dengan aneka warna yang terlihat begitu memukau oleh terpaan sinar dari cahaya matahari sebagai gerbang awal dari ArtJog MMXX. 

“Hidup senantiasa bergerak mencari jalannya,”

konsep Marga Pangestu. 

Memasuki gedung JNM, kami menjumpai sejumlah karya yang dihasilkan dari persepsi masa lalu.

Salah satu persepsi tersebut adalah proses pertarungan yang menghasilkan kemenangan dan kekalaan, dimana setiap kemenangan dan kekalahan akan menciptakan sejarah dan kehidupan yang baru.

Kami menemukannya dalam salah satu karya awal berjudul “Love Is A Many Splendorend Thing’ karya Jompet Kuswidananto. 

“Proyek ini mencoba memasuki kembali perasaan nostalgis pada imaji-imaji pertarungan, kekerasan dan puing-puing yang terus digosok hingga kilaunya memberikan cahaya tuntunan bagi hari ini,”

tulis Jompet dalam karyanya. 

Proses akan masa lalu yang selalu membawa makna baru diteruskan oleh perupa Sirin Farid Stevy yang kali ini bekerja sama dengan sang ayah Asto Puaso.

Sirin Farid Stevy di ArtJog-min
Karya Sirin Farid Stevy di ArtJog MMXXI (Dongo Dinungo Reactor), photo : Andri/Piknikdong

Dalam karya yang berjudul ‘Dongo Dinungo Reactor’, Farid menghadirkan karya instalasi yang terdiri dari 65 tangga bambu sebagai simbol dari perjalanannya dan sang ayah demi mencari makam sang kakek, Sirin, sebagai salah satu korban eksekusi tahun 1965-1966. 

Dalam sejumlah karya-karya awal di ArtJog MMXXI ini, perjalanan masa lalu menjadi konsep utama. Kami juga mendapatinya dari karya berjudul ‘Encounter’ dari F.X. Harsono. 

“Encounter dari bahasa Inggris yang berarti ‘Perjumpaan’, tetapi bisa juga berarti ‘Pertempuran’.

Budaya baru tercipta melalui proses tawar-menawar, tarik-ulur, ada yang bisa diterima dan ada yang tidak.

Proses ini layaknya sebuah pertempuran yang tidak mengakibatkan kehancuran tetapi justru menciptakan budaya baru. Budaya hybrid,”

tulis FX Harsono dalam deskripsi karyanya. 

Beberapa karya ArtJog 2021 lainnya juga mengambil sejumlah sudut pandang dari masa lalu yang terus menghasilkan berbagai makna baru di kehidupan saat ini.

Salah satu makna yang terbentuk dari masa lalu adalah budaya. Tren budaya yang terjadi pada setiap generasi dihadirkan oleh  Vienasty Rezqina dalam karyanya yang berjudul ‘Is There Anything New Under The Sun?’. 

“Karya ini menghadirkan kembali sebuah lukisan Hindia molek (Mooi Indie), oleh Basuki Abdullah, dengan menggunakan bahasa dan medium yang berbeda-beda.

Dengan mengadopsi bahasa dan medium visual yang pernah menjadi tren sepanjang 1960 hingga 2020, karya ini menghadirkan “kekinian” pada periode yang berbeda-beda,”

tulis Vienasty dalam karyanya. 

Masa lalu bisa jadi melahirkan banyak hal yang kemudian dirasakan oleh generasi saat ini.

Namun, kami juga terpana ketika melihat sebuah ‘miniatur’ teknologi masa depan yang memiliki karakter lokal dalam karya Nurrachmat Widyasena yang berjudul ‘PT Besok Jaya Taimket’. 

karya Nurrachmat Widyasena-min
Karya Nurrachmat Widyasena di ArtJog MMXI (PT Besok Jaya Taimket’), photo : Andri/Piknikdong

Dalam karyanya, sang perupa membuat sebuah purwarupa yang terlihat seperti sebuah sepeda namun dilengkapi dengan berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk menembus ruang dan waktu. 

“Pada tahap awal operasi ini, PT Besok Jaya berhasil menciptakan sebuah purwarupa mesin waktu yang dinamakan Taimket WP-01,”

tulis Nurrachmat dalam deskripsi karyanya. 

Selain sejumlah karya yang merupakan persepsi dari masa lalu, sejumlah karya juga menampilkan apa yang sedang terjadi di saat ini, terutama di tengah krisis yang menimpa dunia hari ini.

Salah satu karya yang begitu membekas dalam benak kami adalah instalasi yang dibuat oleh Eko Prawoto berjudul ‘The Journey Inside’.

Eko Prawoto
Karya Eko Prawoto di ArtJog MMXXI (The Journey Inside), photo : Tomyzul/Piknikdong

Bahkan, kami sempat berhenti beberapa waktu untuk menikmatinya. 

“Saatnya menepi sejenak, menyusuri jalan setapak hening kalbu.

Ada banyak yang terlewatkan yang terlanjur hanyut tanpa pernah kita sapa dan raba. Ada banyak yang sederhana namun yang juga sangat kaya dalam diri kita,”

tulis Eko Prawoto. 

Melalui karya bordir, lukisan dan beberapa patung berjudul ‘Destroyed In Peace’, Eko Nugroho juga menampilkan dinamika fenomena COVID-19 yang kini sedang melanda dunia.

Karya Eko Nugroho di ArtJog MMXXI-min
Karya Eko Nugroho di ArtJog MMXXI (Destroyed In Peace’), photo : Andri/Piknikdong

Menurutnya, setelah selama satu tahun lebih pandemi tersebut ada, sejumlah sosok manusia baru mulai muncul lengkap dengan situasi dan kondisinya. 

Sejumlah kebiasaan baru dan dampaknya pun juga digambarkan dalam sejumlah karya perupa di ArtJog MMXX kali ini.

Salah satunya adalah hasil karya Suvi Wahyudianto yang berjudul Telepresence After 20th dan karya dari Ngakan Made Ardana yang berjudul ‘After Tourist Gone’. 

Melalui kertas foto polaroid, Suvi menghadirkan pengalamannya ketika melakukan perjalanan secara virtual di sejumlah tempat yang begitu dirindukannya.

Karya Ngakan Made
Karya Ngakan Made di ArtJog (After Tourist Gone), photo : Andri/piknikdong

Sedangkan Ngakan Made menghadirkan perspektif baru dari keadaan pariwisata setelah adanya hantaman pandemi COVID-19 di lingkungan sekitarnya, Bali. 

ArtJog MMXXI: Arts in Common – Time (to) Wonder kali ini diselenggarakan mulai tanggal 8 Juli hingga nantinya berakhir pada 31 Agustus 2021 di Joga National Museum, DI Yogyakarta.

Diikuti oleh 41 perupa Indonesia, ArtJog kali ini juga menghadirkan sejumlah program menarik.

Salah satunya adalah ArtCare Indonesia yang menjadi sebuah wadah kepedulian para seniman terutama dalam menghadapi masa pandemi ini. 

Ingin melihat seluruh karya ArtJog 2021 ini? langsung saja menuju www.artjog.id, selain melihat karya, ada beberapa program menarik yang bisa di ikuti seperti Exhibition Tour dan Meet The Artist.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah 10

Jadilah yang pertama memberi peringkat disini.

Kami mohon maaf karena posting ini tidak berguna untuk Anda

Biarkan kami memperbaiki pos ini

Beri tahu kami bagaimana kami dapat memperbaiki pos ini?

FREE 100% Dapatkan info dan penawaran menarik langsung di email! 

Daftar klik disini