Piknikdong.com, News – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi membeberkan secara rinci rangkaian peristiwa kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang sempat dinyatakan hilang kontak saat menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari.
Pesawat dengan registrasi PK-THT itu dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dan akhirnya diketahui jatuh di kawasan puncak Gunung Bulusaraung, tepatnya di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Ballocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Lokasi Jatuh Dekat Bandara dan Posko SAR
Lokasi kecelakaan tercatat berada sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Area tersebut juga relatif dekat dengan posko terdekat milik Basarnas, sehingga mempercepat proses koordinasi awal pencarian.
Dalam penerbangan tersebut, pesawat membawa 10 orang sesuai manifes, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Penerbangan Carter untuk Misi Pengawasan
Menhub menjelaskan bahwa pesawat ATR tersebut merupakan pesawat carter yang digunakan KKP untuk menjalankan misi pengawasan wilayah perairan Indonesia.
Pesawat lepas landas pada pukul 08.08 WIB, Sabtu pagi.
Tugas penerbangan ini berkaitan langsung dengan fungsi surveillance yang menjadi bagian dari tanggung jawab KKP dalam menjaga sumber daya kelautan nasional.
ATC Beri Koreksi, Kontak Mendadak Terputus
Saat mendekati Makassar, tepatnya pukul 12.23 WITA, petugas Air Traffic Control (ATC) dari Makassar Area Terminal Service Center mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin.
“Pukul 12.23 WITA, ATC mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya dan memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat, serta menyampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur,”
ujar Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1).
Namun, setelah arahan tersebut diberikan, komunikasi antara ATC dan pesawat tiba-tiba terputus.
Status Darurat Dideklarasikan, Crisis Center Dibentuk
Setelah kehilangan kontak, ATC segera menetapkan fase darurat atau distress phase sesuai prosedur keselamatan penerbangan.
Selanjutnya, Airnav Indonesia bersama MATSC langsung melakukan koordinasi lintas instansi.
“Selanjutnya, Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI Polri, Pemerintah Daerah Provinsi dan maupun Pemerintah Daerah Kabupaten, instansi terkait untuk membentuk krisis center yang disiapkan di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar,”
katanya.
Operasi SAR Dimulai dengan Dukungan Drone TNI AU
Operasi pencarian terpadu dimulai pada Minggu, 18 Januari pukul 06.15 WITA. Pencarian difokuskan di kawasan Gunung Bulusaraung dengan mengerahkan drone milik TNI Angkatan Udara.
Tak lama berselang, pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan berhasil menemukan serpihan awal berupa jendela pesawat.
Tiga menit kemudian, serpihan besar yang diduga bagian badan dan ekor pesawat turut teridentifikasi.
“Pada pukul 10.05 WIB, konferensi pers dilaksanakan di bawah koordinasi Basarnas bersama unsur TNI, Polri, KNKT, Kementerian Perhubungan, Airnav, dan Operator Perdana Pembangunan,”
terang Dudy.
Evakuasi Jenazah dan Koordinasi Intensif
Pada pukul 11.59 WITA, Posko Crisis Center Basarnas menerima laporan penemuan satu jenazah korban berjenis kelamin laki-laki yang kemudian langsung dievakuasi dari lokasi.
“Pukul 18.30 WITA, kami beserta dengan Ketua Basarnas melakukan rapat koordinasi dengan seluruh aparat yang terkait, 10 pihak yang terkait, untuk memonitor pelaksanaan dari operasi SAR yang dilakukan atau yang dipimpin oleh Basarnas,”
jelasnya.
Cuaca Buruk dan Medan Ekstrem Jadi Tantangan Besar
Koordinasi lanjutan kembali dilakukan pada Senin, 19 Januari, di posko terdekat yang berada di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene. Dalam kunjungannya, Menhub menyoroti kondisi lapangan yang sangat menyulitkan.
“Medan yang kami lihat disana adalah medan yang cukup terjal dengan kemiringan kurang lebih hampir sampai dengan 70-80 derajat dengan kondisi licin dan hujan, sehingga menyulitkan, mungkin nanti dari Basarnas bisa menyampaikan detailnya,”
ungkap Dudy.
Hujan yang turun sejak pagi hingga sore serta awan tebal memperberat proses evakuasi dan pencarian lanjutan.
Korban Bertambah, Investigasi KNKT Masih Berjalan
Pada hari yang sama, Senin (19/1), kembali ditemukan satu jenazah korban berjenis kelamin perempuan.
Seluruh bagian pesawat yang berhasil ditemukan akan dikumpulkan di Lanud Hasanuddin untuk kepentingan investigasi.
“Kemudian untuk proses identifikasi akan dilakukan oleh DVI dari Kepolisian Polda Sulawesi Selatan,”
katanya.
Hingga kini, sekitar 1.200 personel gabungan dikerahkan dalam operasi SAR. Sementara itu, penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari KNKT.












