Ngayogjazz 2018 Di Bantul, Ada Apa Saja Disana?

Ngayogjazz akan memasuki penyelenggaraan yang ke-12 di tahun 2018. Yang menarik dari perhelatan Ngayogjazz selama sebelas tahun ini adalah hal-hal yang mendasari diselenggarakan Ngayogjazz ini ternyata sudah tercapai dan bahkan berkembang melebihi harapan dari para penggagas Ngayogjazz.

Musik jazz menjadi inklusif baik sebagai produk musik maupun sebuah tontonan. Di acara (Ngayogjazz) ini, jazz  bisa ditonton oleh semua kalangan dan berbagai usia, juga bisa disaksikan di Ngayogjazz bagaimana jazz bisa melebur dan berinteraksi dengan jenis musik yang lain bahkan dengan seni apapapun baik yang tradisi maupun modern, sehingga seperti yang selalu dikatakan oleh salah satu board creative dan penggagas Ngayogjazz, Djaduk Ferianto, Ngayogjazz bukan hanya sekedar sebuah tontonan tapi juga sebagai peristiwa budaya sekaligus media pembentuk masyarakat pendukung produk seni.

Temu Media Ngayogjazz 2018
Temu Media Ngayogjazz 2018

Selain itu, Ngayogjazz juga berhasil menempatkan desa bukan hanya sebagai obyek, tetapi lebih dari itu. Masyarakat desa di mana diadakannya perhelatan Ngayogjazz selalu menjadi mitra yang mutual. Peran aktif warga desa selalu menjadi energi positif yang berimbas kepada pelaksaan Ngayogjazz yang konsisten hingga usia yang ke-12 ini.

Tempat pelaksanaan Ngayogjazz selalu berpindah-pindah agar memberikan nuansa yang berbeda. Menggabungkan musik jazz dan suasana pedesaan memberikan warna tersendiri yang menjadi ciri khas penyelenggaran Ngayogjazz dan memberikan pengalaman yang berbeda yang selalu dinantikan para penggemarnya.

Peta Menuju Ngayogjazz 2018
Peta Menuju Ngayogjazz 2018

Pada kesempatan kali ini, Ngayogjazz 2018 diselenggarakan pada hari Sabtu Legi, 17 November 2018 di Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul pukul 10.00 WIB – 23.00 WIB. Menghadirkan lebih dari 40 kelompok musik dan ratusan seniman dari Indonesia maupun luar negeri seperti Perancis, Belanda, Spanyol dan Italia.

Bukan Ngayogjazz namanya jika tidak memiliki ciri khas nyeleneh yang selalu tersaji di tagline yang dihadirkan. Pada kesempatan yang ke-12 kali ini, Ngayogjazz mengusung tema ’Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara’ sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat Indonesia saat ini.

Tema ini merupakan plesetan dari ‘Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata’ yang kurang lebih maknanya: Walaupun Negara mempunyai hukum dan tata Negara, namun tiap daerah juga memiliki adat dan budaya yang khas menurut mereka dan erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah masing-masing.

Dalam setiap penyelenggaraannya, Ngayogjazz selalu menggandeng masyarakat yang menjadi tuan rumah untuk turut serta dalam merayakan kemeriahan peristiwa budaya ini. Hal ini pun juga didasari dengan pandangan untuk pemberdayaan masyarakat tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi lebih dari itu. Di Ngayogjazz, bukan hanya pertunjukan musik jazz saja yang bisa dinikmati, ada pula penampilan menarik lainnya seperti kesenian tradisional yang ditampilkan oleh warga setempat.

Ngayogjazz juga turut merangkul teman-teman komunitas untuk turut serta berpartisipasi. Mulai dari komunitas jazz dari berbagai kota, komunitas seni, fotografi, bahkan otomotif ikut memeriahkan perayaan Ngayogjazz. Inilah jamming session a la Ngayogjazz yang melibatkan banyak pihak, baik panitia, masyarakat maupun komunitas untuk turut serta dalam menciptakan satu harmoni indah dalam keberagaman.

Dalam perayaan Ngayogjazz 2018 kali ini, hadirin yang datang untuk merasakan dan merayakan kemeriahan Ngayogjazz di desa Gilangharjo diharapkan untuk membawa buku tulis (?) ataupun buku cerita. Nantinya semua buku ini akan dikumpulkan dan disumbangkan untuk saudara saudara di tanah air yang membutuhkan.

Untuk membuatnya semakin meriah dan semarak, Ngayogjazz menggandeng juga Froghouse untuk mengambil bagian dan berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama Karang Taruna Gilangharjo dalam workshop artistik untuk menciptakan dekorasi dan hiasan untuk festival.

Workshop yang terbuka untuk umum ini, menghasilkan berbagai dekorasi dan hiasan yang menggunakan bambu sebagai bahan dasarnya. Dalam prosesnya, workshop ini melibatkan pasukan kodok dari Froghouse, Karang Taruna Gilangharjo, dan sedulur-sedulur yang tertarik dan hadir di Gilangharjo.

Froghouse juga hadir bersama kolaborator seni, Situ(s)eni – terdiri dari 3 orang seniman berlatar belakang berbeda: Prihatmoko Moki (muralis), Annisa P Cinderakasih (arsitek) dan Wilujeng (penari), yang juga ikut ambil bagian memeriahkan Ngayogjazz 2018 dengan menghadirkan karya-karya seni yang tersebar di beberapa titik yang berbeda di desa Gilangharjo dan semua karyanya terinspirasi dari situs seni yang ada di desa tersebut.

Secara keseluruhan, suasana seperti inilah yang kemudian membuat Ngayogjazz selalu diminati, tidak hanya oleh orang-orang yang tinggal di Yogyakarta saja tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri. Lebih dari 30.000 pengunjung setiap tahunnya dari berbagai usia, bermacam tingkat sosial dan pendidikan, hingga berbagai kebangsaan hadir dan bergerak bersama Ngayogjazz menyebarkan kebahagiaan.

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Seorang mimin piknik yang punya hobi piknik namun sangat kurang piknik. Walaupun begitu mimin ini selalu mengajak orang untuk piknik. Karena piknik ini sekarang sudah menjadi kebutuhan
BAGIKAN
Komentarmu?