Piknikdong.com, Event – Yogyakarta kembali menghadirkan salah satu agenda budaya tahunan yang selalu dinanti, yaitu Nandur Srawung #12.
Tahun ini, pameran yang dihelat oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mengusung tema “Eling | Awakening”, sebuah ajakan untuk kembali sadar dan bangkit di tengah banyaknya krisis global.

Tema ini muncul dari refleksi atas situasi dunia yang makin kompleks mulai dari pandemi yang mengguncang, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi yang bikin ritme hidup serba cepat.
Di tengah arus digitalisasi yang tak kenal jeda, manusia sering kali merasa tertinggal. Belum lagi dampak iklim yang tidak hanya mengubah bumi, tapi juga memengaruhi sisi emosional dan psikologis kita.
“Ini adalah menjadi ajakan kita semua untuk membuka kesadaran baru, baik sebagai personal, sosial, maupun ekologis, melalui karya seni, dan pembangunan kehidupan budaya saat ini, sehingga ada sebuah kemungkinan akan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian, baik itu lingkungan seni, dan tidak hanya menjadi cermin realitas saja, tapi juga menjadi inspirasi untuk membangkitkan semangat kehidupan yang dikembangkan,”
tutur Dra. Purwiati, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, dalam konferensi pers di Ruang Seminar TBY, Kamis (9/10/2025).
Konsep Baru: Dari Galeri ke Art Garden
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Nandur Srawung #12 kali ini tidak digelar di ruang galeri seni rupa TBY yang sedang dalam masa renovasi.
Sebagai gantinya, pameran dipindah ke gedung Militaire Societeit dengan konsep menarik: Art Garden.
“Jadi, penyelenggaraan tahun ini tidak seperti biasanya dilaksanakan di ruang galeri seni rupa, karena sudah diketahui bersama bahwa TBY sedang direnovasi, sehingga fasilitas untuk pameran kemudian berlalu ke untuk Militari Societet, dan di halamannya nanti pamerannya ini konsepnya adalah ada indoor dan outdoor,”
jelas Dra. Purwiati.
Konsep baru ini ternyata memberi warna segar. Ruang terbuka di halaman Militaire Societeit disulap menjadi taman seni tempat para seniman bisa lebih bebas mengekspresikan ide mereka.
“Dengan keterbatasan ruang, kita justru memiliki kebebasan yang unik untuk merespon halaman gedung sosial dan militer sebagai ruang seni terbuka yang bisa menampilkan karya dalam suasana seperti kebun,”
ungkap Rain Rosidi, salah satu kurator pameran.
100 Seniman, 100 Karya, 1 Semangat
Tahun ini, Nandur Srawung menampilkan 100 karya dari 100 seniman lokal, nasional, hingga internasional.
“Di dalam pameran kali ini kita menghadirkan 100 karya, 100 seniman dengan berbagai macam karya dan dengan berbagai reputasi yang dalam klasifikasi kami disebutkan sebagai seniman lokal, nasional dan internasional dalam satu pameran bersama.
Di dalam pameran ini, 100 seniman ini menghadirkan karya yang ada di indoor yaitu di lobby Militaire Societeit,”
jelas Rain Rosidi.
Menariknya, pameran ini juga diwarnai kehadiran seniman dari luar negeri.
“Di luar itu kita juga mengundang beberapa seniman-seniman undangan termasuk dari seniman internasional dan seniman yang bereputasi internasional dari kita untuk memberikan warna kemudian juga untuk memberikan tekanan kepada tema ini,”
tambahnya.
Salah satu kurator lainnya, Irene Agrivina, menegaskan bahwa tahun ini partisipasi benar-benar berskala global.
“Menyambung dari karya tadi, kita memiliki data open call dan pertama ada seniman yang berasal dari Yogyakarta, seniman nasional, global dan nasional, dan internasional.
Kali ini ada dari beberapa negara seperti Australia, Perancis, Belanda, dan Palestina yang ikut serta,”
ujarnya.
Lebih dari Sekadar Pameran Seni
Tak hanya memamerkan karya, Nandur Srawung #12 juga menghidupkan semangat kolaborasi lewat berbagai program seperti Nandur Gawe: Open Studio di NS XII Lab, Srawung Sinau: Performance Lecture, dan Program Harian NS XII.
Di acara pembukaan, juga akan digelar sesi penghargaan Lifetime Achievement Award dan Young Rising Artist Award sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaku seni yang inspiratif.
Dengan visi yang menonjolkan inklusi, rekreasi, edukasi, inovasi, dan kolaborasi, pameran ini bukan sekadar ajang apresiasi seni, tapi juga ruang untuk kembali eling menyadari nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan kepedulian di tengah perubahan dunia.
Bagi siapa pun yang berada di Yogyakarta antara 9–18 Oktober 2025, pameran ini layak banget untuk dikunjungi.
Bukan hanya karena keindahan karya seninya, tapi karena semangatnya: bangkit, sadar, dan tumbuh bersama lewat seni.












