Piknikdong.com, Tips – Di akhir bulan Desember 2025 ini memasuki bulan Rajab 1446 Hijriah.
Bulan ketujuh dalam penanggalan Islam ini dikenal sebagai salah satu bulan mulia yang sarat keutamaan.

Banyak Muslim menjadikannya sebagai waktu untuk memperbanyak amalan, termasuk puasa sunnah yang dianjurkan.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang masih menyimpan tanggungan puasa Ramadhan dari tahun sebelumnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang cukup sering muncul: apakah puasa qadha Ramadhan harus didahulukan, atau boleh digabung dengan puasa sunnah Rajab?
Pertanyaan tersebut terasa relevan, terutama bagi mereka yang ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan menjalankan kewajiban sekaligus mengejar pahala sunnah.
Rajab yang penuh berkah pun dianggap sebagai momen ideal untuk melunasi hutang puasa sambil tetap meraih keutamaannya.
Apakah Puasa Rajab dan Qadha Ramadhan Bisa Dilaksanakan Bersamaan?
Menurut penjelasan Ustadz Mubassyarum Bih, menggabungkan niat puasa Rajab dengan qadha Ramadhan diperbolehkan dalam syariat Islam.
Seseorang yang melakukannya tetap sah berpuasa dan berpeluang memperoleh dua pahala sekaligus.
Meski demikian, praktik penggabungan niat ini memang memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Sebagian ulama dari mazhab Syafi’iyah serta Lembaga Fatwa Mesir menyatakan kebolehan hal tersebut.
Imam as-Suyuti, misalnya, menegaskan bahwa orang yang berpuasa qadha, nazar, atau kaffarah lalu meniatkan pula puasa sunnah termasuk Rajab maka puasanya tetap sah dan bernilai ganda.
Pendapat senada juga disampaikan Imam Ar-Ramlī as-Syafi’i.
Ia menjelaskan bahwa mengqadha puasa pada hari-hari istimewa seperti Syawal atau Asyura tetap mengantarkan pelakunya pada pahala sunnah hari tersebut.
Meski begitu, beliau menekankan bahwa memisahkan antara puasa wajib dan sunnah tetap lebih utama.
Perbedaan Pandangan Ulama soal Penggabungan Niat
Di sisi lain, terdapat ulama yang tidak sependapat dengan praktik penggabungan niat ini. Di antaranya Syaikh bin Baz, Syaikh Dr. Abdurrahman Ali Al-Askar, serta Syaikh Dr. Muhammad bin Hassan.
Menurut mereka, jika niat qadha Ramadhan digabung dengan puasa sunnah, maka yang sah hanya niat puasa wajibnya saja, sementara niat sunnahnya tidak dianggap.
Namun, Syekh al-Barizi memberikan penjelasan menarik.
Ia menegaskan bahwa meskipun seseorang hanya berniat qadha Ramadhan, keutamaan puasa di bulan Rajab tetap dapat diperoleh secara otomatis.
Penjelasan ini sejalan dengan keterangan dalam kitab Fathul Mu’in dan I’anatuth Thalibin yang menyebutkan bahwa berpuasa di hari-hari yang dianjurkan secara otomatis mengarah pada keutamaan hari tersebut, meskipun disertai niat puasa lain.
Kitab al-I’ab juga menambahkan bahwa puasa qadha yang dilakukan pada hari istimewa tetap berpotensi menghadirkan pahala ganda, baik diniatkan secara eksplisit maupun tidak.
Prinsip serupa berlaku ketika dua amalan puasa bertemu dalam satu hari, seperti puasa Arafah yang bertepatan dengan hari Kamis.
Bacaan Niat Puasa Rajab Sekaligus Qadha Ramadhan
Bagi yang memilih menggabungkan niat puasa Rajab dan qadha Ramadhan, berikut lafal niat yang dapat dibaca:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ مَعَ سُنَّةِ رَجَبٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghodin ‘an qadha’i fardhi Ramadhana ma’a sunnati Rajabi lillahi ta’ala
Artinya:
“Saya niat puasa esok hari untuk mengqadha puasa Ramadhan sekaligus puasa sunnah Rajab karena Allah Ta’ala.”
Perlu dipahami bahwa puasa qadha Ramadhan termasuk puasa wajib, sehingga jenis puasanya harus ditentukan secara jelas dalam niat.
Sementara itu, puasa Rajab sebagai puasa sunnah tetap sah meski hanya diniatkan secara umum tanpa penyebutan khusus.
Tata Cara Puasa dan Anjuran Menjaga Amalan
Pelaksanaan puasa Rajab sekaligus qadha Ramadhan tidak berbeda dengan puasa pada umumnya. Puasa dimulai sejak terbit fajar hingga datangnya waktu maghrib.
Selama berpuasa, wajib menjauhi segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan hubungan suami istri.
Selain itu, menjaga lisan, sikap, dan perbuatan juga sangat dianjurkan agar puasa tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga bernilai di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW menyampaikan keutamaan puasa di bulan Rajab dalam sabdanya:
“Sesungguhnya di surga ada suatu sungai yang bernama Rajab. Warnanya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu.
Barang siapa berpuasa satu hari pada bulan Rajab, akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan: Utamakan yang Wajib, Sunnah Menyempurnakan
Perbedaan pendapat ulama mengenai penggabungan niat puasa Rajab dan qadha Ramadhan adalah hal yang wajar dalam khazanah fiqih Islam.
Namun, satu hal yang perlu dipegang adalah bahwa qadha Ramadhan tetap harus diutamakan karena sifatnya wajib.
Bagi yang ingin mengambil jalan paling aman, memisahkan antara puasa qadha dan puasa sunnah Rajab tetap menjadi pilihan yang lebih utama sebagaimana dianjurkan oleh banyak ulama.
Dengan begitu, ibadah bisa dijalani dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.












