Piknikdong.com, News – Sedang mencari informasi mengenai kapan Malam 1 Suro 2025 jatuh pada tanggal berapa lengkap dengan informasi lainnya? Sekarang sudah berada di tempat yang sangat tepat.
Malam 1 Suro 2025 menjadi momen penting bagi masyarakat Jawa.

Tak hanya menandai awal tahun dalam kalender Jawa, malam ini juga dipercaya sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual.
Lalu, malam 1 Suro 2025 jatuh tanggal berapa? Dan apa saja tradisi yang biasa dilakukan masyarakat?
Berikut ini penjelasan lengkap mulai dari tanggal menurut NU dan Kemenag, weton, hingga kepercayaan dan tradisi malam 1 Suro yang masih dijaga hingga sekarang.
Apa Itu Malam 1 Suro?
Dalam budaya Jawa, malam 1 Suro adalah malam pertama dalam penanggalan tahun baru Jawa.
Sama halnya dengan 1 Muharram di kalender Hijriah, 1 Suro jadi momen reflektif yang sering diisi dengan kegiatan spiritual, bukan perayaan meriah seperti tahun baru Masehi.
Dilangsir dari DetikJateng, yang membuat malam 1 Suro ini istimewa adalah kepercayaan bahwa pintu alam gaib terbuka, sehingga arwah leluhur dipercaya kembali ke rumahnya.
Masyarakat pun diimbau menjaga sikap dan menghindari beberapa hal, seperti:
- Bepergian jauh
- Pindah rumah
- Membuat keributan atau pesta
Malam 1 Suro 2025 Jatuh Tanggal Berapa?
Tanggal malam 1 Suro bisa berbeda tergantung sumber rujukannya. Berikut ini dua versi tanggal malam 1 Suro 2025:
Versi NU:
- 1 Suro 1959 Dal: Jumat, 27 Juni 2025
- Malam 1 Suro dimulai: Kamis, 26 Juni 2025 mulai Maghrib
Versi Kementerian Agama RI (Kemenag):
- 1 Suro 1959 Dal: Sabtu, 28 Juni 2025
- Malam 1 Suro dimulai: Jumat, 27 Juni 2025 mulai Maghrib
Keduanya benar karena sistem penanggalan bisa berbeda, tapi sama-sama berpatokan pada pergantian hari saat matahari terbenam, bukan pukul 00.00 seperti kalender Masehi.
Weton dan Wuku Malam 1 Suro 2025
Dalam budaya Jawa, tanggal juga memiliki weton (gabungan hari dan pasaran) serta wuku (siklus minggu):
- Weton 1 Suro 2025 versi NU: Jumat Kliwon
- Weton 1 Suro 2025 versi Kemenag: Sabtu Legi
- Wuku keduanya: Medangkungan
Weton sering digunakan untuk mencari hari baik, sementara wuku punya makna filosofi tersendiri yang berasal dari sistem penanggalan Jawa Kuno.
Perbedaan Kalender Jawa dan Hijriah
Meski kalender Jawa dan Hijriah sama-sama menggunakan sistem lunar (bulan), keduanya tidak selalu sejalan. Dalam kalender Jawa:
- Bulan ganjil = 30 hari
- Bulan genap = 29 hari
Berikut daftar bulan dalam kalender Jawa beserta jumlah harinya:
| Bulan | Jumlah Hari |
|---|---|
| Suro | 30 hari |
| Sapar | 29 hari |
| Mulud | 30 hari |
| Bakda Mulud | 29 hari |
| Jumadil Awal | 30 hari |
| Jumadil Akhir | 29 hari |
| Rejeb | 30 hari |
| Ruwah | 29 hari |
| Poso | 30 hari |
| Sawal | 29 hari |
| Sela | 30 hari |
| Besar | 29 hari |
Sedangkan dalam kalender Hijriah, jumlah hari tergantung pada penampakan hilal sehingga bisa berbeda-beda setiap bulan.
Malam 1 Suro bukan hanya awal tahun dalam kalender Jawa, tetapi juga momen sakral yang sarat nilai budaya dan spiritual.
Masyarakat Jawa meyakini bahwa malam ini bukan waktu untuk berpesta, melainkan untuk hening, introspeksi, dan menghormati leluhur.
Jadi, entah kamu mengikuti versi NU atau Kemenag, yang pasti malam 1 Suro selalu mengajak kita untuk kembali pada kesadaran diri, kesederhanaan, dan kedekatan dengan alam semesta.













