Piknikdong.com, Edukasi – Kalau bicara soal cabai, sebagian besar orang mungkin langsung terbayang cabe rawit atau cabe merah besar.
Tapi, ada satu jenis cabai yang punya bentuk lucu tapi rasa pedasnya bikin keringat bercucuran Cabe Gendot (Capsicum chinense) namanya.

Tanaman ini bukan asli Indonesia, lho. Diperkirakan, cabe gendot berasal dari Semenanjung Yucatan dan menyebar ke berbagai penjuru dunia lewat jalur perdagangan dan migrasi manusia.
Di Indonesia sendiri, cabe ini sangat terkenal di kawasan Jawa Barat dan dataran tinggi Dieng, Wonosobo.
Bentuknya Lucu, Tapi Pedasnya Serius
Disebut “gendot” karena bentuknya memang gendut dan mungil. Kulitnya halus dengan lekukan lembut, sekilas mirip paprika mini.
Tapi jangan tertipu tampilannya yang menggemaskan tingkat pedasnya jauh di atas cabe rawit biasa!
Cabe gendot dikenal punya sensasi pedas yang langsung “nyetrum” di lidah.
Warna kulitnya yang cerah mulai dari hijau, oranye, sampai merah menyala membuatnya tampak cantik, tapi di balik itu tersimpan rasa panas yang bisa bertahan lama di mulut.
Bahkan hanya dengan memegangnya saja, sensasi hangatnya bisa terasa sampai 12 jam.
Skala Pedasnya? Jangan Remehkan!
Menurut ukuran Scoville Heat Unit (SHU), tingkat kepedasan cabe gendot berkisar antara 100.000 hingga 350.000 SHU.
Angka ini menempatkannya dalam kategori super pedas, sejajar dengan jenis cabai premium dunia seperti habanero.
Tidak heran kalau banyak pencinta pedas menjadikannya bahan wajib untuk menantang batas lidah. Bagi mereka, cabe ini bukan sekadar bumbu, tapi pengalaman kuliner yang menegangkan.
Tumbuh Subur di Dataran Tinggi
Cabe Gendot banyak dibudidayakan di kawasan Dieng Plateau, Wonosobo.
Di sepanjang jalan menuju obyek wisata Dieng, tanaman cabe ini sering terlihat di kebun-kebun warga. Bahkan, banyak toko oleh-oleh yang menjualnya dalam bentuk segar atau olahan khas.
Menariknya, meski populer di Indonesia, cabe ini bukan tanaman lokal.
Awalnya berasal dari wilayah Amazon, lalu menyebar ke Meksiko, terutama di Semenanjung Yucatan salah satu penghasil habanero terbesar di dunia.
Dieng dipilih sebagai lokasi budidaya karena kondisi geografisnya mirip dengan daerah asalnya: sinar matahari melimpah dan tingkat keasaman tanah di kisaran pH 5–6, ideal untuk pertumbuhan cabe ini.
Menyebar ke Berbagai Negara
Selain di Indonesia, cabe gendot juga tumbuh di berbagai negara beriklim tropis seperti Amerika Serikat bagian selatan, Panama, Kosta Rika, hingga Belize.
Pada abad ke-18, sempat ada kesalahpahaman bahwa cabai ini berasal dari Tiongkok. Itulah sebabnya cabai ini akhirnya mendapat nama ilmiah Capsicum chinense.
Lebih dari Sekadar Pedas
Rasa pedas cabe gendot berasal dari senyawa capsaicin, yaitu zat yang memberi sensasi panas khas cabai.
Tapi bukan cuma itu, capsaicin juga punya manfaat lain antara lain sebagai antimikroba alami, anti-inflamasi, dan bahan dalam obat pereda nyeri.
Dari Sambal Pedas hingga Manisan Unik
Meski super pedas, cabe gendot justru punya banyak penggemar. Di dapur, cabai ini bisa diolah jadi aneka masakan mulai dari lodeh, tumisan, sambal, hingga saus.
Di daerah Dieng, cabe gendot bahkan diolah menjadi manisan cabai, yang uniknya punya rasa pedas-manis segar.
Selain itu, banyak juga kreasi menu seperti tongkol cabai gendot atau sambal cumi cabe gendot, cocok buat mereka yang doyan makanan laut dengan sensasi ekstrem.
Tips Menyimpan Cabe Gendot
Cabe Gendot biasanya berbiji hitam kecil. Masyarakat setempat sering membuang bijinya agar rasa pedasnya tidak terlalu “menggigit”.
Disimpan di suhu ruang, cabe ini bisa bertahan sekitar 10 hari, tapi bila diletakkan di lemari pendingin, ketahanannya bisa mencapai lebih dari sebulan.
Dengan bentuk yang lucu tapi rasa pedas yang luar biasa, Cabe Gendot benar-benar membuktikan pepatah “don’t judge a book by its cover”.
Dari dataran tinggi Dieng hingga meja makan para pecinta kuliner pedas, cabe ini selalu berhasil mencuri perhatian dengan cita rasanya yang khas dan menantang.












