Sejarah dan Makna Rabu Wekasan, Tradisi Doa dan Silaturahmi di Bulan Safar

Bagikan:

Piknikdong.com, News – Rabu Wekasan, atau yang sering disebut juga Rabu Pungkasan, adalah sebuah tradisi turun-temurun yang selalu digelar pada Rabu terakhir di bulan Safar.

Advertisements

Dalam bahasa Jawa, “Rebo” berarti Rabu, sementara “wekasan” bermakna penutup atau akhir.

Sejarah dan Makna Rabu Wekasan: Tradisi Doa dan Silaturahmi di Bulan Safar
Sejarah dan Makna Rabu Wekasan, photo: Pixabay

Penentuan harinya merujuk pada kalender Hijriah, tepatnya bulan Safar yang merupakan bulan kedua dalam kalender Islam.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 terbitan Kementerian Agama RI, bulan Safar 1447 H dimulai pada Sabtu, 26 Juli 2025, dan berakhir pada Minggu, 24 Agustus 2025.

Advertisements

Dengan demikian, Rabu Wekasan tahun 2025 akan jatuh pada 20 Agustus 2025 atau 26 Safar 1447 H.

Sejarah dan Asal-Usul Rabu Wekasan

Tradisi ini dipercaya merupakan hasil perpaduan kearifan lokal Jawa dengan ajaran Islam. Catatan sejarah menelusuri jejaknya sejak abad ke-17, tepatnya pada masa penyebaran Islam oleh Wali Songo.

Dasar dari Rabu Wekasan diyakini merujuk pada sebuah hadis Rasulullah SAW yang berkaitan dengan anggapan sebagian orang mengenai kesialan di bulan Safar.

Pada masa itu, para ulama meyakini bahwa bulan Safar diturunkan lebih dari 500 macam penyakit ke bumi.

Untuk menghindari marabahaya, masyarakat mengadakan tirakatan, yaitu malam khusus yang diisi dengan doa, dzikir, dan ibadah.

Harapannya, Allah SWT melindungi mereka dari segala bentuk bencana maupun penyakit.

Kegiatan tirakatan ini kemudian menjadi simbol usaha sekaligus doa agar masyarakat tetap dalam lindungan-Nya.

Sejak saat itu, Rebo Wekasan terus dijaga hingga kini, meskipun cara pelaksanaannya bisa berbeda di tiap daerah. Namun, esensinya tetap sama: memohon keselamatan dan perlindungan.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Bukan hanya bermakna religius, Rabu Wekasan juga menghadirkan kebersamaan antarwarga.

Biasanya, masyarakat melaksanakan doa bersama, pembacaan Al-Quran, hingga pengajian yang digelar di masjid maupun rumah-rumah.

Tradisi ini bukan hanya menjadi sarana berdoa, tetapi juga wadah mempererat silaturahmi, memperkuat solidaritas, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah dijaga lintas generasi.

Dengan begitu, Rabu Wekasan bukan hanya sekadar tradisi keagamaan, melainkan juga bagian penting dari identitas budaya lokal yang memperkaya khazanah tradisi Islam di Nusantara.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi peringkat!

Peringkat rata-rata 0 / 5. Jumlah suara: 0

Jadilah orang pertama yang memberi peringkat pada postingan ini.

Kami mohon maaf jika postingan ini tidak bermanfaat bagi Anda!

Mari kita perbaiki postingan ini!

Beri tahu kami bagaimana kami dapat meningkatkan postingan ini?

Penulis