“Kota, Seni Patung, dan Sejarah Kawasan” SEMINAR TERBUKA JSSP 2017 ‘Jogjatopia’

Seni patung yang hadir di tengah ruang publik bukan lagi semata media ekspresi seniman, namun juga mempunyai fungsi sosial-politik yang melekat pada sebuah kawasan. Hal ini pula yang mendasari dihadirkannya Jogja Street Sculpture Project (JSSP) di Yogyakarta.

Pada gelaran kedua kali ini, JSSP akan hadir di kawasan Niew Wijk, sebuah kawasan warisan kolonial yang kini benama Kotabaru.

Kotabaru dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan dalam semangat untuk menengok kembali sejarah dan meraba visi kolonial yang utopis tentang kota masa depan. Berjalan pada dua lini gagasan ini pula JSSP 2017 menetapkan ‘Jogjatopia’ sebagai tajuk.

"Kota, Seni Patung, dan Sejarah Kawasan" SEMINAR TERBUKA JSSP 2017 ‘Jogjatopia’

Kota dibangun berdasar pada impian-impian ideal warga yang didapatkan dari pengetahuan mereka tentang sebuah kawasan. Pengetahuan ini lahir dari pemahaman akan kesejarahan, dinamika interaksi sosial warga, dan peran partisipatif mereka dalam perkembangan kota.

Kotabaru yang dibangun pada tahun 1920an, berpijak pada impian warga kolonial akan sebuah kawasan masa depan dengan spirit modernitas yang kental. Hal ini bisa dilihat dari pola keruangan yang dirancang hingga infrastruktur dan fasilitas kehidupan yang dibangun. Gagasan utopis tentang masa depan pun disematkan dan melekat di dalamnya hingga kini.

Lantas bagaimana dengan kondisi yang sekarang?

Jika ditarik pada kondisi faktual kota Yogyakarta dalam skala yang lebih luas, apakah pembentukan kawasan kota Yogyakarta sekarang dirancang dan dibangun dengan berpijak pada aspek sejarah kawasan?

Apakah gagasan romantik Kota baru relevan untuk dimaknai ulang dalam perancangan kawasan kota?

Apakah pemerintah selaku otoritas pemegang kekuasaan mampu untuk menghadirkan akses bagi masyarakat secara partisipatif mewujudkan impian-impian ideal warganya akan sebuah kota?

Lantas bagaimana pula dengan proyek seni JSSP?

Apakah kehadiran seni patung di ruang publik mampu melakukan fungsinya secara maksimal sebagai media penyadaran publik?

Sebagai satu bentuk intervensi artistik di ruang publik, apakah keberadaan patung-patung publik ini mampu merengkuh kesadaran warga akan perkembangan kota ke depannya?

Sebagai sebuah projek seni yang menyasar pada ruang publik, seminar terbuka ini  diselenggarakan dengan maksud memberikan dasar pijakan dan sosialisasi informasi bagi para seniman dan masyarakat terkait dengan gagasan-gagasan yang melandasi tema besar JSSP 2017 ‘Jogjatopia’.

Menengok ulang sejarah, posisi seni patung, dan menyisir fenomena faktual ruang publik dalam skala pembacaan kota yang komplek, seminar ini akan berfokus pada spektrum pembacaan tentang Kota, Seni Patung, dan Sejarah Kawasan, dengan kawasan Kotabaru sebagai studi kasus.

Dalam seminar ini akan dihadirkan pembicara-pembicara yang kompeten dalam bidangnya, diantaranya adalah Drs. Umar Priyono, M.Pd, selaku Kepala Dinas Kebudayaan yang akan menyampaikan bagaimana bentuk-bentuk kebijakan Dinas Kebudayaan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan kota, serta mekanisme partisipasi warga dalam kebijakan tersebut.

Beliau juga akan menyampaikan inisiasi terkait pendirian BPKCB (Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya) untuk kawasan Kotabaru. Drs. Anusapati, MFA, selaku Ketua Asosiasi Pematung Indonesia (API) yang akan memaparkan tentang dinamika seni patung publik dan perkembangan kawasan kota, gagasan dilahirkannya Jogja Street Sculpture Project (JSSP), serta konteks kehadiran JSSP dengan peran partisipatif publik yang diharapkan.

Dr.Ing Greg Wuryanto, M.Arch, selaku chief curator JSSP 2017, yang akan menyampaikan gagasan utama dalam JSSP 2017 ‘Jogjatopia’ terkait dengan pemilihan Kotabaru sebagai lokasi penyelenggaraan, menggunakan pendekatan kajian arsitektural, seni ruang publik dan pengembangan kawasan.

Dr. Farabi Faqih, sejarawan, akan menyampaikan bagaimana sejarah dinamika ekonomi politik Indonesia, yang mendasari di bangunnya kawasan Kotabaru masa lalu.

Di samping pembicara-pembicara yang khusus mengulas tentang kota, kawasan Kotabaru, dan JSSP 2017 ‘Jogjatopia’, dalam seminar ini juga turut mengundang Achmad Charis Zubair, selaku aktivis kawasan cagar budaya yang akan menyampaikan pengalaman beliau dalam menggerakkan BPKCB sebagai percontohan pengelolaan cagar budaya di Indonesia, dalam studi kasus kawasan Kotagede yang menjadi ruang gerak beliau selama ini.

Paparan dan diskusi dalam seminar ini nantinya akan dipandu oleh Kuss Indarto, kurator, selaku moderator acara.

Seminar terbuka yang akan menjadi kegiatan awal gelaran Jogja Street Sculpture (JSSP) 2017 ‘Jogjatopia’ akan diselenggarakan pada Kamis, 14 September 2017, pukul 10.00 – 16.00 wib, di Eks Gedung KONI (Sono Budoyo), Jl. Trikora No.4 Yogyakarta.

Beriring acara ini pula akan diselenggarakan pameran karya maket patung dari para pematung peserta JSSP yang akan diproyeksikan untuk JSSP 2017 ‘Jogjatopia’ pada bulan Oktober 2017 nanti.