Bakal Berlangsung 39 Hari, ArtJog 2020 Mengusung Tema Time To Wonder

Sudah siap untuk ke ArtJog 2020? Ya, pada hari Selasa (28/1) kemarin ArtJog MMXX Arts in Common sosialisasi tentang tema yang akan diusung di tahun 2020 ini.

Seperti judulnya,  ArtJog MMXX Arts in Common bakal mengusung tema Time to Wonder, dan akan berlangsung selama 39 hari.

Sosialisasi Artjog 2020
Sosialisasi ArtJog 2020

Apa sih makna Tema ArtJog 2020 Time to Wonder?

Secara singkat, Time to Wonder adalah undangan untuk memaknai ihwal waktu melalui praktik seni.

Untuk ARTJOG Arts in Common isu tentang waktu mendesak untuk dikemukakan karena sejumlah hal.

Pertama, secara mendasar, praktik seni dapat menjadi refleksi mendalam atas pemahaman manusia terhadap suatu fenomena pada suatu jaman.

Meski tidak selalu termanifestasikan dalam kesimpulan-kesimpulan yang terformulasi secara objektif dan sistematis (seperti dalam sains), eksperimen kreatif para seniman mampu menyingkap secara idiosinkratik dan kadang tak terduga.

Singkatnya, ARTJOG percaya sepenuhnya pada kapasitas seni untuk menyingkap dimensi-dimensi pemahaman manusia yang tersembunyi, tak terpikirkan dan tiada terpermanai.

Kedua, nyatanya sudah lama sekali praktik seni rupa mempersoalkan ‘waktu’, dalam keluasan spektrum pengertiannya.

Sejarah telah membuktikan bagaimana para seniman menyumbangkan gagasan-gagasan yang menarik, baik secara langsung maupun tidaktentang waktu.

Dalam ulasan banyak sejawaran seni, karya-karya para Surrealis dan Kubis pada awal abad ke-20, misalnya, seringkali diulas sebagai capaian artistik modern yang beresonansi langsung dengan teori relativitas Einstein.

Perkembangan seni performans, video (video art) dan bunyi (sound art) pada 1960-an, dan seni media baru—sebagai seni digital atau seni komputer, pada 1980-an’—di pihak lain, dianggap memperkaya dimensi estetik ‘seni rupa’ dengan elemen waktu.

Kontribusi para seniman performans yang merintis ‘pendekatan daya-tahan’ (dengan karya-karya yang dikenal dengan istilah durational performance) menegaskan bagaimana elemen waktu berkait-kelindan dengan wacana tentang seni tubuh.

Kita dapat melacak dan menggali bagaimana waktu hadir dalam karya-karya para seniman modern sepanjang abad ke-20. Tapi meluasnya spektrum ‘seni rupa kontemporer’ sekurang-kurangnya sejak dominasi posmodernisme pada 1980-an yang cenderung menganut prinsip ‘anything goes’ (apapun boleh, baca: “apapun adalah seni”) semakin mendekatkan pengertian ‘seni rupa’ dengan waktu.

Kemunculan istilah ‘seni berbasis waktu’ (time-based arts, yang memayungi berbagai jenis kesenian ‘berdurasi’, termasuk film, musik dan teater) yang menonjol setelah 1990-an, adalah bukti bagaimana waktu kini menjadi menjadi salah satu ‘matra’ yang sah dalam mediasi dan resepsi karya seni rupa.

Pemanfaatan teknologi audio-visual oleh para perupa telah mengubah karya-karya berbasis-waktu menjadi lebih imersif dan interaktif. Dalam aras yang lain, ihwal waktu juga telah diinvestigasi secara mendalam oleh para seniman konseptual, mereka yang menempatkan gagasan atau konsep sebagai medium artistik tersendiri.

Seniman kelahiran Jepang On Kawara adalah sampel primer dalam kecenderungan ini.  Kawara melahirkan serangkaian karya yang paling lama dikerjakan oleh seorang seniman individu. Melalui seri Today, dengan medium yang sederhana yakni cat dan kanvas, ia secara sengaja melukis secara repetitif, metodis, dan obsesif setiap hari, selama puluhan tahun (1966-2014).

Pada setiap lukisan berlatar gelap itu hanya tertera angka-angka berwarna putih yang menunjukkan tanggal lukisan itu dibuat.

Menurut sejarawan Pamela M. Lee, cerdasnya karya ini terletak pada upaya tanpa akhir untuk mempertanyakan kehadiran, kemutakhiran sekaligus kesementaraan objek seni.

Proyek-proyek Kawara lainnya, seperti seri kartu pos I am Still Alive, misalnya, adalah refeksi yang filosofis sekaligus satir tentang keberadaannya sebagai individu dalam hitungan waktu kuatitatif manusia.

Selain Kawara, seniman lainnya seperti Felix Gonzales-Torres dan Tehching Hsieh juga telah melakukan sejumlah eksperimentasi tak kalah menarik, yang membuktikan bahwa sebagai tema ‘filosofis’, ‘reflektif’ dan ‘kontemplatif’, waktu bukanlah ‘subjek eksklusif’ dalam ranah para filosof saja.

Ketiga, judul ARTJOG MMXX Time (to) Wonder juga dimaksudkan sebagai suatu undangan untuk memaknai ‘hari ini’ (bukan suatu kebetulan jika hal ini beririsan langsung dengan keberadaan ARTJOG sebagai sebuah festival seni rupa kontemporer yang konon selalu berurusan dengan kemutakhiran dan kekinian).

Namun harus diakui, bagi tim kurator ARTJOG, ini adalah agenda yang beresiko namun sekaligus menantang. Baik ‘kontemporer’ maupun ‘hari ini’ adalah penanda yang paling cair dan arbitrer, yang justru kontradiktif dengan pengertian waktu linier.

Selama ini, seni rupa kontemporer dekat dengan konotasi ahistoris setelah para posmodernis menyatakan berakhirnya narasi besar. Seni rupa kontemporer juga identik dengan berakhirnya seni, menurut Arthur Danto, yakni ketika praktik seni tak lagi diarahkan oleh kemajuan linier isme-isme atau gerakan yang dibayangkan oleh narasi Sejarah Seni (Art History, dengan huruf kapital) pada awal abad ke-20.

Sejak akhir abad ke-20, seni rupa telah terjun bebas dalam ranah praktik yang serba plural dan hibrid. Alih-alih berpatokan pada progresi linier ala modernisme, kecenderungan estetik seni rupa kontemporer malah termanifestasikan ke dalam kecenderungan ‘regresif-multilinier’, terutama jika kita selami sejumlah strategi artistik semacam apropriasi, pastiche dan parodi yang dominan dalam seni lukis. Tanpa penekanan pada bobot kesadaran sejarah, seni rupa semacam itu beresiko jatuh menjadi sekadar tontonan yang menyesatkan.

Resiko lain yang diusung oleh ‘hari ini’ sebagai penanda waktu adalah bahwa, di tengah ramifikasi informasi oleh internet global dan media sosial selama beberapa tahun belakangan ditambah lagi dengan ‘politik pasca-kebenaran’ yang mengikutinya, yang diyakini ‘benar hari ini’ adalah mendapatkan jumlah klik terbanyak oleh sebagian besar pengguna internet.

Pertanyaannya: Masih bisakah seni menawarkan ‘hari ini’ yang reflektif (dan mungkin otentik), yang terlepas dari semua logika kuantitatif semacam itu? Ketimbang menawarkan ‘pesona keajaiban’ dan ‘kedalaman misteri’ waktu (time  wonder) belaka, ARTJOG MMXX Arts in Common juga menantang para seniman untuk memtanyakan kembali (to wonder) segala sesuatu, untuk menghindar dari semua pengertian ‘kekinian/kemutakhiran hari ini’ yang serba stereotip.

Karena ‘kekontemporeran’ (contemporariness), kata Giorgio Agamben, sesungguhnya adalah hubungan satu lawan satu yang unik antara seseorang dengan suatu masa yang melekat kepada, dan pada saat yang sama, berjarak dengannya.

Kapan ArtJog 2020?

ArtJog MMXX Arts In Common Time to Wonder akan diselengarakan pada tanggal 23 Juli – 30 Agustus 2020 mendatang.

Sedangkan untuk lokasi ArtJog 2020 ini masih sama dengan tahun lalu yaitu di Jogja National Museum.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah 7

Jadilah yang pertama memberi peringkat disini.

Kami mohon maaf karena posting ini tidak berguna untuk Anda

Biarkan kami memperbaiki pos ini

Beri tahu kami bagaimana kami dapat memperbaiki pos ini?

FREE 100% Dapatkan info dan penawaran menarik langsung di email! 

Daftar klik disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?