Teater FKY 2019 Mengajak Untuk Melintasi “Djembatan Gondolaju”

Pendhapa Art Space menjadi tempat diselenggarakannya pementasan teater FKY 2019 Djembatan Gondolaju karya Nasjah Djamin.

Selasa (17/7), penonton disuguhi lakon dari naskah drama klasik yang belum pernah dipentaskan di Yogyakarta.

Official Dok FKY2019-Suasana Pintu Masuk Pendhapa Art Space
Official Dok FKY2019-Suasana Pintu Masuk Pendhapa Art Space

Bersama dengan kebaruan tontonan tersebut, penonton juga diajak melihat hasil kompilasi dua sutradara dari generasi dan aliran seni yang cukup kontras, yaitu sutradara senior Suharjoso SK dan sutradara anyar Agnes Christina.

Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik
Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik

Drama satu babak yang berdurasi dua jam tersebut bercerita tentang orang-orang yang berniat untuk bunuh diri di Jembatan Gondolayu, namun gagal karena bertemu dengan orang-orang yang mengajak mereka bicara.

Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik
Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik

Kolaborasi pemain dari Teater Gadjah Mada dengan para pemain senior berhasil memukau penonton. Kostum dan make up vintage dan musik keroncong pun membantu untuk membawa pada masa ketika naskah ini dibuat, yaitu pada pada tahun 50-an.

“Dari sekian banyak naskah, Djembatan Gondolaju dipilih karena langka.

Selain itu, naskah ini ditulis tahun 1957 ketika milestones Yogyakarta dimulai. Naskah ini juga menggambarkan lanskap dan sejarah kota.

Kita bisa belajar tentang itu melalui sebuah naskah drama,”

Ujar Irfanuddien Ghozali selaku kurator pementasan.

“Pak Yos kami hadapkan dengan para pemain muda dan Agnes dipasangkan dengan pemain senior agar bisa saling belajar.

Para pemain muda dapat mempelajari metode teater tahun 70-an, dan Agnes bisa mendapatkan paparan dari pemain senior.

Perwakilan sutradara masa kini dipilih perempuan karena pada masanya Pak Yos pun belum ada sutradara teater perempuan,”

Tambah Irfanuddien.

Dalam metode penggarapan teater yang terbilang baru ini, Agnes Christina sebagai sutradara non-konvensional menyatakan bahwa dalam pementasan ini, ia menghadirkan hasil pembacaannya terhadap naskah klasik tersebut.

“Saya lebih mengompromikan apa yang Pak Yos hadirkan dan menggunakan sumber yang sudah dipilih beliau.

Misalnya, untuk musik. Beliau memilih musik keroncong, ya saya tinggal menyesuaikan meminta pemusik memainkan lagu yang pada bagian saya perlu dinyanyikan,”

Kata Agnes Christina di sela-sela persiapan pementasan.

Pertemuan dua sutradara dari masa dan aliran teater yang berbeda pun menghasilkan tantangan tersendiri bagi Agnes. Walaupun ia juga melihat proses reading para pemain yang berlatih bersama Suharjoso, ia pun harus tetap mengutak-atik adegan agar saling berkorelasi menjadi satu bagian drama.

Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik
Official Dok FKY2019-Pendalaman Karakter oleh Aktor sehingga Teater FKY2019 dapat dinikmati dengan Apik

Tantangan pun dirasakan oleh Harizka Tarigan, salah satu pemain dari Teater Gadjah Mada yang memerankan tokoh pelacur bernama Karni. Selain karena disutradarai oleh Suharjoso yang sangat memerhatikan detil gerakan para pemain, tokoh Karni merupakan tokoh yang sangat jauh dari kesehariannya. Bahkan, untuk mendalami karakter tersebut, ia mewawancarai beberapa PSK di daerah Pasar Kembang.

“Karni ini walaupun dia pelacur, tapi dia pintar dan mau mendengar.

Dialognya yang paling kuat adalah saat dia menasihati gadis yang mau bunuh diri.

Karni berkata,

‘Kau tidak bisa terus menerus lari, Jeng. Sekuat tenaga manusia lari, kakinya akan terbentur kembali pada kenyataan!’.

Di sini terlihat bahwa walaupun dia pelacur, dia tetap memikirkan keselamatan orang lain,”

Kata Harizka Tarigan bersemangat.

Advertisements

Secara umum, Agnes melihat bahwa perkembangan teater di Yogyakarta sudah cukup baik. Berbagai genre mulai dari old school hingga modern dapat ditemukan. Ia berharap agar keragaman tersebut tetap terjaga, bahkan terjalin kerja sama antar kelompok teater.

Sedangkan secara khusus, Irfanuddien berharap bahwa setelah acara ini, metode latihan dan pementasan yang diterapkan dalam acara ini dapat dilanjutkan agar tercipta ruang untuk saling bertemu dan berkolaborasi.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata / 5. Jumlah

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

FREE 100% Jadi bagian dari PIKNIKDONG, dan dapatkan kejutanya! 

Daftar Klik Disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?