Kenalan Dengan Petugas Sarana KAI, Sosok Dibalik Layar Keselamatan dan Kenyamanan Kereta Api

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang transportasi massal, PT Kereta Api Indonesia (Persero) memposisikan keselamatan sebagai prioritas utama.

Salah satu profesi penting di balik tersajinya keselamatan dalam layanan Kereta Api adalah petugas sarana KAI.

Petugas sarana bertanggung jawab dalam hal perawatan dan pengecekan sarana kereta api seperti kereta penumpang, gerbong barang, dan lokomotif.

Petugas Sarana KAI
Petugas sarana KAI mengecek rangka bawah lokomotif, photo : KAI.id

“Petugas saranalah yang memastikan kereta, gerbong, dan lokomotif siap dioperasikan.

Sehingga dapat melayani pelanggan dengan selamat dan nyaman,”

kata VP Public Relations KAI Joni Martinus.

Dalam pelaksanaan pekerjaannya, petugas sarana KAI memiliki ‘kantor’ sendiri yang dinamakan dipo dan balai yasa.

Dipo adalah tempat perawatan rutin kereta, gerbong, dan lokomotif. Sementara balai yasa dapat dianalogikan sebagai bengkel besar kereta api, tempat di mana armada kereta api menjalani perawatan besar dua atau empat tahunan.

Secara garis besar petugas sarana terbagi atas 2 bagian yaitu petugas sarana kereta/gerbong dan petugas sarana lokomotif.

Petugas sarana KAI memeriksa bogie kereta penumpang
Petugas sarana KAI memeriksa bogie kereta penumpang, photo : KAI.id

Pekerjaan rutin bagi petugas sarana kereta/gerbong adalah memeriksa rangka bawah, bogie (kerangka yang membentuk set roda dengan gandar), alat tolak tarik (alat perangkai kereta, gerbong, atau lokomotif), alat pengereman, dan peralatan keselamatan pada kereta atau gerbong.

Demi kenyamanan pelanggan, petugas juga secara intensif mengecek kebersihan interior dan eksterior kereta, sistem kelistrikan termasuk AC dan audio-video, serta kelaikan toilet.

Kegiatan perawatan dan perbaikan yang berkaitan dengan kereta atau gerbong tersebut dilakukan di dipo kereta atau gerbong.

Petugas sarana memeriksa mesin lokomotif agar dapat berfungsi secara maksimal
Petugas sarana KAI memeriksa mesin lokomotif agar dapat berfungsi secara maksimal, photo : KAI.id

Adapun petugas sarana lokomotif dikhususkan melakukan perawatan komponen lokomotif dan memastikannya berfungsi dengan baik. Seluruh bagian seperti sistem angin, diesel, elektrik dan mekanik harus dicek dan diperbaiki secara berkala.

Kegiatan perawatan dan perbaikan tersebut dilakukan di dipo lokomotif.

Setelah kereta/gerbong dan lokomotif dicek oleh petugas, proses selanjutnya adalah pemeriksaan secara keseluruhan oleh kepala dipo kereta/gerbong atau kepala dipo lokomotif.

Jika hasil pemeriksaannya baik dan memenuhi standar perawatan maka kereta/gerbong/lokomotif tersebut dinyatakan siap operasi (SO).

Untuk memaksimalkan upaya keselamatan dari sisi sarana, pengecekan tidak hanya dilakukan di dipo atau balai yasa saja, tetapi juga di stasiun-stasiun yang disinggahi kereta api.

Pengecekan drive-through atau yang dinamakan proses schowing ini merupakan pengecekan ulang guna memastikan sarana kereta api masih sesuai standar.

Komponen yang dicek yaitu peralatan pengereman, peralatan perangkai, peralatan keselamatan, serta sistem kelistrikan.

Apabila setelah dilakukan schowing, sarana kereta api masih dalam kategori laik, maka perjalanan kereta api boleh dilanjutkan.

Namun jika terdapat gangguan, petugas sarana KAI akan dengan sigap memperbaiki komponen yang bermasalah hingga berfungsi kembali, dan siap melanjutkan perjalanan ke stasiun pemberhentian akhir.

“Pekerjaan perawatan sarana kereta api memegang peranan penting dalam keselamatan perjalanan kereta api.

Oleh sebab itu, berbagai persyaratan harus dimiliki oleh petugas sarana sebelum ditempatkan di dipo atau balai yasa,”

kata Joni.

Petugas sarana KAI harus mengantongi Sertifikat Kompetensi Tenaga Pemeriksa Sarana Kereta Api dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan Surat Tanda Tamat Pelatihan (STTP) dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan KAI.

Untuk petugas pemeriksa lokomotif, maka harus memiliki Sertifikat Pemeriksaan Lokomotif dari Balai Pelatihan Teknik Traksi KAI dan Smart Card (tanda kecakapan sebagai tenaga pemeriksa) dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

“Manajemen secara rutin memberikan pembinaan kepada para petugas sarana minimal 12 kali dalam setahun.

Pembinaan tersebut meliputi standar operasional prosedur (SOP) kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta disiplin diri,”

ujar Joni.

Di saat pandemi Covid-19 para pekerja sarana juga diberikan sosialisasi untuk mematuhi protokol kesehatan dalam menjalankan tugas seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak (3M).

“Meskipun bekerja di balik layar, namun peran petugas sarana sangat berpengaruh dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan pelanggan KAI untuk menikmati perjalanan dengan kereta api,”

tutup Joni.

Seberapa menarik artikel ini?

Klik bintang untuk memberi vote.

Penilaian rata-rata 5 / 5. Jumlah 4

Jadilah yang pertama memberi peringkat disini.

Kami mohon maaf karena posting ini tidak berguna untuk Anda

Biarkan kami memperbaiki pos ini

Beri tahu kami bagaimana kami dapat memperbaiki pos ini?

FREE 100% Dapatkan info dan penawaran menarik langsung di email! 

Daftar klik disini

Menyajikan informasi menarik terkini
BAGIKAN
Komentarmu?